Agnesia menegaskan bahwa pembangunan sejatinya adalah soal pilihan moral. Dalam keterbatasan anggaran, pemerintah harus berani menentukan prioritas yang menyelamatkan kehidupan rakyat.

“Rakyat tidak hidup dari seremoni. Rakyat hidup dari akses. Jalan yang layak bukan kemewahan, tetapi kebutuhan dasar,” pungkasnya.

BEM Undana memastikan akan terus mengawal isu infrastruktur Amfoang terputus sebagai bentuk tanggung jawab moral dan intelektual mahasiswa terhadap masyarakat Nusa Tenggara Timur. (*/rnc)