Produk ini memiliki sejumlah keunggulan nutrisi, di antaranya protein tinggi dari ikan teri dan sorgum, kaya mikronutrisi seperti vitamin A, C, kalsium, fosfor, dan omega-3, serta indeks glikemik rendah yang aman bagi kesehatan metabolik. Selain itu, Beras Granul juga bebas gluten, sehingga cocok bagi masyarakat dengan intoleransi gluten.

Kolaborasi Riset dan Teknologi Pangan

Dalam konsorsium ini, Undana berperan sebagai mitra pelaksana lapangan, penyedia data primer, sekaligus co-designer program berbasis pangan lokal. UB menyumbang keunggulan teknologi formulasi pangan fungsional melalui teknik granulasi, sementara UMM mendukung aspek hilirisasi produk dan edukasi gizi masyarakat.

“Kolaborasi ini sangat strategis. Undana memiliki pemahaman sosial-budaya dan pangan lokal NTT, sementara UB menghadirkan teknologi pangan mutakhir,” ujar Prof. Intje Picauly.

Diuji Berbasis Budaya Lokal

Untuk memastikan penerimaan masyarakat, tim peneliti menerapkan pendekatan etnografi dan uji organoleptik lokal. Tujuannya agar Beras Granul dipersepsikan sebagai modifikasi makanan sehari-hari, bukan produk asing atau obat.

Riset tahun kedua akan difokuskan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dengan melibatkan Dinas Kesehatan, guna menguji daya terima dan efektivitas Beras Granul dalam meningkatkan status gizi anak.

Menuju Kedaulatan Pangan dan Ekonomi Lokal

Keberhasilan inovasi Beras Granul diproyeksikan memberi dampak besar bagi NTT, mulai dari penurunan stunting yang lebih presisi, penguatan kemandirian pangan daerah, hingga multiplier effect ekonomi bagi petani kelor, sorgum, dan nelayan ikan teri.