Jakarta, RakyatNTT.ID – Kisah pilu yang terjadi di Nusa Tenggara Timur kembali menjadi pengingat betapa rapuhnya kondisi psikologis anak, terutama ketika mereka hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan minim dukungan emosional.

Seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) berinisial YBR (10) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri. Kepergian bocah tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat luas, sekaligus memantik keprihatinan nasional.

Berdasarkan keterangan awal, sebelum peristiwa tragis itu terjadi, YBR diduga merasa sangat kecewa karena permintaannya untuk dibelikan buku tulis dan pulpen tidak dapat dipenuhi oleh sang ibu. Penolakan tersebut terjadi bukan karena keengganan, melainkan akibat kondisi ekonomi keluarga yang sedang sulit.

“Menurut pengakuan ibunya, permintaan itu korban minta sebelum meninggal,” ujar Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, dikutip dari detikBali, Rabu (4/2/2026).

Bukan Sekadar soal Ekonomi

Psikolog klinis Anna Surti Ariani atau yang akrab disapa Nina menegaskan bahwa kasus bunuh diri pada anak tidak pernah berdiri pada satu faktor tunggal. Ia mengingatkan publik agar tidak menyederhanakan persoalan dengan semata-mata menyalahkan kondisi ekonomi keluarga.