“Yang perlu kita cermati adalah tidak mungkin penyebab bunuh diri itu hanya satu macam saja,” ujar Nina dalam program detikSore, Rabu (4/1/2026).

Menurutnya, kecil kemungkinan seorang anak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hanya karena satu peristiwa, termasuk penolakan permintaan alat sekolah. Biasanya, keputusan impulsif tersebut muncul akibat akumulasi berbagai tekanan psikologis yang dialami dalam waktu bersamaan.

Akumulasi Tekanan yang Tak Terlihat

Nina menjelaskan, dalam banyak kasus, anak-anak yang mengalami pemikiran bunuh diri kerap menghadapi tekanan berlapis. Misalnya, anak menjadi korban perundungan di sekolah karena tidak memiliki perlengkapan belajar seperti teman-temannya.

Tekanan tersebut dapat semakin berat jika lingkungan rumah tidak memberikan rasa aman. Anak mungkin sering dimarahi, kurang didengarkan, atau tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan sedih, kecewa, dan takut.

“Di rumah pun dia sering dimarahi, hingga dia merasa hidup saya gagal, selalu dianggap kurang, tidak punya apa-apa,” jelas Nina.

Ketika berbagai masalah ini menumpuk dalam waktu relatif singkat, seorang anak bisa merasa terjebak, putus asa, dan akhirnya melakukan tindakan ekstrem secara impulsif.