(Surat Gembala Pra Paskah 2026 – 1)
oleh: Mgr.  Fransiskus Nipa
(Uskup Agung Makassar)

Salam hangat buat teman-teman di Komunitas Persekutuan Umat Katolik Toraja (PUKAT) Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa serta kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menjadi harapan dan kegembiraan kita bersama. Hari Rabu Abu memulai Masa Pra Paskah 2026 jatuh pada tanggal 18 Februari 2026. Surat Gembala ini mengangkat tema: “Semangat Laudato Sì’ dan Transformasi Hidup Mengatasi Krisis Sosial.”

* Semangat Laudato Sì’
Menjelang akhir tahun 2025 pada akhir November 2025 kita dihadapkan pada kenyataan pahit. Saudara saudari kita di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh terdampak tanah longsor dan banjir yang mengakitbatkan
lebih dari 604 korban jiwa, 464 korban hilang, sekian ribu yang luka dan menderita. Puluhan ribu rumah rusak. Fasilitas umum dan infrastruktur hancur. Sekian ribu lahan pertanian dan perkebunan rusak berat terdampak dari bencana tersebut. (sumber: Kompas.com 2 Des. 2025).

Di tengah situasi sulit dan penuh derita itu, kita menyatakan simpati yang mendalam, memanjatkan doa meringankan beban penderitaan mereka dan solidaritas berupa donasi untuk membantu saudara-saudari kita. Secara khusus, saya haturkan limpah terima kasih kepada segenap umat, lembaga dan komunitas (kelompok kategorial) di Keuskupan Agung Makassar atas donasi lebih dari setengah miliar yang bisa kita salurkan kepada Caritas Nasional untuk membantu meringankan beban penderitaan mereka.

Peristiwa bencana alam berupa banjir dan tanah longsor di penghujung tahun 2025 ini mengundang kita untuk bermenung dan berefleksi atas sikap dan tindakan kita selama ini terhadap lingkungan dan alam semesta sebagai rumah bersama ini. Fenomena alam berupa banjir dan tanah longsor seperti yang menimpah Sumatera bagian Utara dan Barat, tentu saja tidak berdiri sendiri tetapi berkelindan dengan cara kita memperlakukan alam selama ini. Kita diajak bermenung, berserah diri sepenuhnya pada Allah yang Mahakuasa seraya instrospeksi diri atas semua sikap dan perilaku kita selama ini. Mungkin kita lalai menjaga dan merawat alam ciptaan ini sebagai rumah bersama.

Mungkin kita abai sehingga teledor merusak ibu pertiwi ini. Kini tiba saatnya untuk berefleksi dan meneguhkan
langkah untuk bertobat, memperbaharui diri dan mengubah kelakuan kita, khususnya kerelaan dan keberanian menjaga, merawat dan mencintai lingkungan sekitar, alam ciptaan, hutan, sungai, laut, selokan dan pekarangan rumah kita masing-masing. Sampah tidak kita biarkan berserakan di mana-mana tetapi kita ubah sampah menjadi berkat. Pekarangan rumah kita jaga dan hijaukan sehingga menciptakan lingkungan yang ramah dan harmonis. Hutan jangan kita gunduli, sungai dan laut jangan kita cemari. Tetapi kita jaga dan pelihara dengan sepenuh hati.

Transformasi Hidup Mengatasi Krisis Sosial Situasi global dewasa ini tidaklah baik-baik saja. Konflik dan perang mewarnai berbagai belahan dunia yang menimbulkan ketidakstabilan sosial-politik-ekonomi dan menimbulkan berbagai macam krisis. Di tingkat nasional dan lokal, sebagaimana muncul hari-hari belakangan ini, kita dihadapkan pada situasi tidak baik baik juga. Di tingkat nasional kita dihadapkan pada berbagai situasi pelik dan ruwet yang membelenggu kehidupan masyarakat antara lain human trafficking, sikap intorelansi, penyerobotan hak tanah ulayat, tawuran, kekerasan atau konflik bersenjata seperti yang
terjadi di Papua telah menimbulkan krisis kemanusiaan.

Sementara di tingkat lokal, adanya eksplorasi tambang yang kurang memperhatikan lingkungan hidup, masalah
keluarga (kesetiaan suami-istri, pendidikan anak yang berkarakter, dan masalah ekonomi) dan adanya sejumlah
Tongkonan (rumah adat rumpun keluarga) yang dirobohkan oleh eskavator (alat berat) di Toraja. Peristiwa tersebut kembali menghentakkan kesadaran kita untuk melihat jauh lebih dalam realitas sesungguhnya yang terjadi di tengah masyarakat.

Sendi-sendi persaudaraan, kekerabatan, rumpun keluarga dan komunitas-masyarakat mengalami keretakan sosial. Nilai luhur persaudaraan dan kekerabatan yang menjadi perekat kuat relasi sosial di tengah masyarakat
mengalami dekadensi yang mengkhawatirkan. (bersambung)