Jakarta, RakyatNTT.ID Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada akhir perdagangan Jumat (6/2/2026). Rupiah ditutup melemah 34,5 poin atau sekitar 0,20 persen ke level Rp16.876 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang menekan pergerakan mata uang emerging market, termasuk Indonesia.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, dari sisi global, tekanan datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Para pejabat Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan bertemu di Oman pada Jumat sore, di tengah situasi yang memanas setelah Washington mengerahkan sedikitnya dua armada angkatan laut ke kawasan tersebut.

Iklan

“Pasar berharap pembicaraan antara Teheran dan Washington dapat meredakan ketegangan dan mencegah konflik yang lebih luas,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Namun demikian, optimisme pasar masih terbatas. AS dan Iran memiliki perbedaan pandangan terkait agenda pembicaraan. Iran menolak permintaan AS untuk membahas persenjataan rudalnya dan menegaskan diskusi hanya akan difokuskan pada isu ambisi nuklir Teheran.

Ibrahim menambahkan, posisi Iran sebagai produsen minyak utama yang berada di sekitar Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, membuat setiap eskalasi ketegangan berpotensi memicu volatilitas tinggi di pasar keuangan global.

Selain geopolitik, sentimen dari ekonomi Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan dolar AS. Data pemutusan hubungan kerja (PHK) versi Challenger menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas tenaga kerja pada Januari dengan laju tercepat sejak krisis finansial global 2009.

Data lain juga mencatat klaim pengangguran mingguan lebih tinggi dari perkiraan, sementara jumlah lowongan kerja Desember berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ini menandakan pasar tenaga kerja AS mulai mendingin.

Situasi tersebut membuka peluang bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga, yang sempat menekan dolar AS. Namun, ketidakpastian kebijakan moneter masih membayangi, terutama terkait arah kebijakan The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, yang dipandang pasar cenderung kurang dovish.

Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari keputusan Moody’s Ratings yang menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat kredit Indonesia tetap dipertahankan pada level Baa2 atau kategori investment grade.

Menurut Moody’s, perubahan outlook ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan, tantangan tata kelola, serta risiko yang dapat memengaruhi kepercayaan investor. Jika berlanjut, kondisi tersebut berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia yang selama ini terbangun.

Moody’s juga menyoroti tantangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas pasar dan mencegah potensi aksi jual besar-besaran terhadap aset keuangan domestik.

Tekanan tambahan datang dari data cadangan devisa Indonesia yang tercatat menurun pada Januari 2026 menjadi USD154,6 miliar, dari sebelumnya USD156,5 miliar. Penurunan ini dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia (BI) di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Meski menurun, BI menegaskan posisi cadangan devisa masih cukup kuat untuk mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.

Ke depan, BI optimistis ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga, didukung oleh cadangan devisa yang memadai dan potensi aliran masuk modal asing seiring persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional dan imbal hasil investasi yang menarik.

Berdasarkan kondisi tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi berada di kisaran Rp16.870 – Rp16.920 per dolar AS. Untuk pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak lebih lebar dalam rentang Rp16.750 – Rp17.200 per dolar AS. (*/rnc)