Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
SUDAH beberapa hari ini saya merasa seperti penjaga mercusuar di tengah badai yang tak pernah benar-benar reda. Lampu mini sudah lama saya nyalakan, tetapi tangan gemetar, mata perih, dan dada sesak oleh ombak berita yang satu ini.
Tragedi seorang anak kelas empat sekolah dasar di Ngada yang memilih mengakhiri hidupnya di pohon cengkeh bukan sekadar berita kriminal, bukan sekadar statistik sosial. Tapi itu seperti lonceng kematian yang dipukul keras tepat di ubun-ubun nurani kita.
Rasanya seperti ada palu godam Thor yang salah alamat, bukan menghantam bumi Asgard. Ia menghantam rasa kemanusiaan kita yang selama ini merasa sudah cukup baik hanya dengan rajin membagikan poster “Indonesia Emas 2045” di media sosial.
Bayangkan, sebelum gantung diri, seorang anak berusia sepuluh tahun, usia yang seharusnya sibuk memikirkan bagaimana menyelundupkan permen ke kelas, atur waktu bermain layang-layang, justru menulis surat perpisahan dengan kedewasaan emosional.
Dengan tanda tangan air mata, ia menulis, “Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Mama saya pergi. Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal Mama.”
Ia menulis, meminta ibunya tidak menangis atas kepergiannya dari dunia. Sebuah kalimat yang, jika ditimbang secara psikologis, menunjukkan betapa ia menempatkan dirinya sebagai penanggung beban emosi orang dewasa.
