Pernyataan itu penting sebagai awal, tetapi tragedi ini menagih lebih dari sekadar rasa malu dan konferensi pers. Ia menuntut kehadiran negara yang bukan hanya datang setelah kematian, melainkan berdiri jauh sebelumnya, saat seorang anak masih berharap pada buku tulis, bukan pada tali.

Indonesia, negeri yang jika soal lembaga sosial bisa menyaingi jumlah warung kopi di kampung-kampung, ternyata masih menyisakan ruang sunyi yang begitu luas sehingga seorang anak bisa merasa hidupnya tidak memiliki penopang.

Negara memiliki kementerian sosial, badan percepatan pengentasan kemiskinan, program bantuan pendidikan, program perlindungan anak, MBG bernilai ratusan triliun, hingga rapat koordinasi yang jumlah notulensinya mungkin bisa dibuat menjadi ensiklopedia tujuh jilid.

Namun di gubuk samping pohon cengkeh setinggi 15 meter di Ngada Nusa Tenggara Timur itu, semua dokumen negara tampak seperti kertas brosur diskon yang terselip di bawah tikar pondok: ada, tetapi tak menyelamatkan siapa pun.

Secara akademis, tragedi bunuh diri anak sering berkaitan dengan kombinasi faktor yang disebut para peneliti sebagai cumulative stress vulnerability. Bukan satu sebab tunggal, tetapi akumulasi tekanan.

Pada anak itu jelas ada masalah kemiskinan, keterpisahan emosional keluarga, keterbatasan relatif akses pendidikan. Juga, lingkungan sosial kita yang terkenal gotong-royong tapi kurang memiliki sistem deteksi dini kesehatan mental.