KETIKA seorang anak berusia 10 tahun di Ngada memilih mengakhiri hidupnya karena orang tua tak mampu membeli perlengkapan sekolah, kita harus berhenti sejenak dan bertanya: ke mana arah pembangunan Nusa Tenggara Timur selama ini?

Ironinya semakin menyakitkan ketika realitas kematian akibat kemiskinan struktural ini bersanding dengan gemerlap festival-festival yang digelar pemerintah daerah. Uang rakyat yang seharusnya dialokasikan untuk air bersih, pendidikan, dan kesehatan, justru mengalir deras untuk pembiayaan “joget-joget” berkedok festival dengan tameng pengembangan UMKM. Padahal, kebutuhan dasar rakyat NTT masih jauh dari terpenuhi.

Fakta bahwa 20-50% pendapatan masyarakat NTT digunakan hanya untuk membeli air bersih adalah bukti kegagalan pelayanan dasar. Setelah pengeluaran untuk air, sisa pendapatan harus dibagi untuk makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya. Wajar bila dalam situasi seperti ini, permintaan anak akan perlengkapan sekolah menjadi barang mewah yang tak terjangkau.

Pemerintah provinsi dan kabupaten di NTT seolah hidup dalam realitas paralel, sibuk menciptakan euforia melalui festival sambil menutup telinga terhadap jeritan rakyat yang kesulitan mengakses air bersih, pendidikan layak, dan pelayanan kesehatan. Musik keras festival telah membungkam suara-suara kritis tentang hak dasar warga.