“Jawa Barat saja punya 91 kursi DPR. Jawa Timur 87. Itu sudah 170 kursi. Jawa Tengah, Banten, dan Yogyakarta kalau digabung, hampir 50 persen anggota DPR berasal dari Pulau Jawa,” paparnya.

Sebaliknya, Papua yang memiliki luas wilayah sekitar tiga setengah kali Pulau Jawa hanya diwakili oleh 18 anggota DPR.

“Coba bayangkan, wilayahnya jauh lebih luas, tantangan geografisnya besar, tapi perwakilannya sangat minim,” sambung Bahlil.

Dorong Perubahan Metode Konversi Kursi

Atas dasar tersebut, Bahlil mendorong Fraksi Partai Golkar di DPR RI, khususnya Wakil Ketua Komisi II DPR, Zulfikar Arse Sadikin, untuk mulai memikirkan perubahan metode penghitungan konversi kursi parlemen.

Ia berharap sistem baru nantinya tidak hanya mempertimbangkan faktor demografis, tetapi juga aspek geografis dan tantangan wilayah, sehingga asas keadilan antar daerah dapat terjamin.

“Kalau ada ide untuk mengubah cara menghitung kursi DPR agar lebih adil antar wilayah, itu baru paten. Itu yang harus dipikirkan,” tegas Bahlil.

Usulan ini membuka ruang diskusi baru mengenai sistem representasi politik di Indonesia, sekaligus menjadi refleksi atas perlunya kebijakan pemilu yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi seluruh wilayah Nusantara. (*/rnc)