Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Mbay, RakyatNTT.ID – Isu pekerja migran Indonesia (PMI) yang kerap luput dari perhatian publik nasional berhasil diangkat secara mendalam oleh Sevrin Waja, wartawan Viva.co.id yang bertugas di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Lewat karya jurnalistik berjudul “Mendorong Migrasi Aman Pejuang Devisa”, Sevrin berhasil menembus tiga besar dalam Lomba Karya Jurnalistik Akselerasi SDG’s yang diselenggarakan Bappenas bekerja sama dengan Kompas Gramedia.
“Iya benar, saya baru dapat email dari panitia penyelenggara dari Kompas Group Media untuk hadir dalam acara puncak di Menara Kompas, Jakarta,” ujar Sevrin, Kamis (18/2/2026).
Diikuti Ratusan Wartawan Nasional
Kompetisi yang digelar sejak Desember 2025 itu diikuti ratusan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari media lokal, nasional hingga internasional.
Dari ratusan peserta, dewan juri memilih 10 karya terbaik untuk kembali berkompetisi dengan menulis dua karya lanjutan. Karya pertama mengangkat praktik baik alumni SDGs, sedangkan karya kedua memberi kebebasan peserta memilih angle tulisan yang relevan dengan SDGs.
Sejumlah media besar masuk dalam 10 nominasi terbaik, di antaranya Kompas, Viva, Tribun, Media Indonesia, CNBC, Jawa Pos, IDN Times hingga Bloomberg Technoz.
“Dari 10 ini kita bersaing lagi untuk mendapatkan tiga terbaik, lalu dari tiga itu akan dipilih satu yang memaparkan karya tulisnya di acara puncak SDGs Academy,” jelas Sevrin.
Soroti Migrasi Aman dan Ancaman TPPO
Dalam karya sebelumnya yang mengantarkannya ke 10 besar, Sevrin mengangkat tema kesetaraan gender dengan menyoroti praktik baik ibu-ibu rumah tangga di Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, dalam mendukung percepatan SDGs di tingkat desa.
Pada tulisan keduanya, mantan aktivis GMNI itu mengulas persoalan pekerja migran asal NTT secara komprehensif. Ia membedah proses perekrutan yang tidak transparan, lemahnya perlindungan hukum, hingga risiko di negara tujuan. Padahal, pekerja migran merupakan penyumbang devisa terbesar kedua di Indonesia.
Laporan bergaya feature tersebut juga menyoroti korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dampak sosial bagi keluarga di kampung halaman, serta beban ekonomi yang tak selalu sebanding dengan harapan.
Sevrin menghadirkan praktik baik dan testimoni pekerja migran yang sukses karena berangkat melalui jalur legal dan prosedural.
“Melalui karya tulis setidaknya saya bisa mengedukasi masyarakat, kalau mau berangkat ke luar negeri harus melalui prosedur sesuai aturan, mulai dari proses perekrutan, pelatihan, hingga keberangkatan melalui jalur resmi yang diawasi pemerintah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti perbedaan mencolok antara pekerja migran nonprosedural yang rentan menjadi korban TPPO dengan mereka yang berangkat secara legal dan mendapatkan perlindungan hukum.
“Testimoni para pekerja migran sukses menjadi bukti bahwa migrasi yang aman dan terkelola dapat membuka peluang peningkatan ekonomi keluarga tanpa mengorbankan keselamatan,” tambahnya.
Tulisan tersebut sekaligus mendorong penguatan peran pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat dalam mencegah perdagangan orang melalui edukasi, transparansi informasi, dan pengawasan ketat terhadap proses perekrutan.
Jurnalisme untuk Membangun Daerah
Capaian ini bukan kali pertama bagi Sevrin. Sebelumnya, ia juga pernah meraih delapan besar lomba karya jurnalistik tingkat nasional yang diselenggarakan Komnas Perempuan terkait ruang aman bagi korban kekerasan anak dan perempuan.
Meski demikian, Sevrin menegaskan bahwa penghargaan bukan tujuan utama. Baginya, dampak nyata bagi masyarakat jauh lebih penting.
“Juara atau masuk nominasi bukan tujuan utama. Karya tulis yang mengedukasi masyarakat untuk lebih sadar dan kritis jauh lebih besar nilainya daripada sekadar penghargaan,” ujarnya.
Ia menilai jurnalis bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga berperan membangun daerah melalui karya yang mencerahkan dan memberdayakan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Sevrin juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang mendukung proses peliputan dan penulisan, di antaranya Kepala Bappeda Nagekeo Hildegardis Muta Kasi, Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Petrus Aurellius Asan, Ketua Bapemperda DPRD Nagekeo Elias Cima, Kabid Perencanaan Vodin Bagur, perwakilan Padma Indonesia Gabriel de Sola, serta para narasumber pekerja migran.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa jurnalisme berkualitas dari daerah mampu bersaing di tingkat nasional sekaligus membawa isu strategis seperti migrasi aman dan perlindungan PMI ke ruang diskusi publik yang lebih luas. (rnc15)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

