“Dari 10 ini kita bersaing lagi untuk mendapatkan tiga terbaik, lalu dari tiga itu akan dipilih satu yang memaparkan karya tulisnya di acara puncak SDGs Academy,” jelas Sevrin.

Soroti Migrasi Aman dan Ancaman TPPO

Dalam karya sebelumnya yang mengantarkannya ke 10 besar, Sevrin mengangkat tema kesetaraan gender dengan menyoroti praktik baik ibu-ibu rumah tangga di Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, dalam mendukung percepatan SDGs di tingkat desa.

Pada tulisan keduanya, mantan aktivis GMNI itu mengulas persoalan pekerja migran asal NTT secara komprehensif. Ia membedah proses perekrutan yang tidak transparan, lemahnya perlindungan hukum, hingga risiko di negara tujuan. Padahal, pekerja migran merupakan penyumbang devisa terbesar kedua di Indonesia.

Iklan

Laporan bergaya feature tersebut juga menyoroti korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dampak sosial bagi keluarga di kampung halaman, serta beban ekonomi yang tak selalu sebanding dengan harapan.

Sevrin menghadirkan praktik baik dan testimoni pekerja migran yang sukses karena berangkat melalui jalur legal dan prosedural.

“Melalui karya tulis setidaknya saya bisa mengedukasi masyarakat, kalau mau berangkat ke luar negeri harus melalui prosedur sesuai aturan, mulai dari proses perekrutan, pelatihan, hingga keberangkatan melalui jalur resmi yang diawasi pemerintah,” tegasnya.