Jakarta, RakyatNTT.ID Guncangan bertubi-tubi menghantam TikTok di Amerika Serikat. Tekanan awal datang dari pemerintah AS yang meminta induk TikTok, ByteDance asal China, melakukan divestasi operasional TikTok di AS atau menghadapi ancaman pemblokiran nasional permanen.

Setelah melalui negosiasi panjang antara entitas AS dan China di tengah tensi geopolitik dua kekuatan ekonomi dunia, operasional TikTok di AS akhirnya beralih ke entitas Amerika Serikat melalui pembentukan perusahaan gabungan baru. Namun, tantangan bagi platform berbagi video tersebut justru belum mereda.

Mengutip CNBC International, banyak pengguna TikTok di AS memilih menghapus aplikasi setelah pengumuman pengalihan operasional ke perusahaan gabungan baru tersebut. Data firma riset pasar Sensor Tower menunjukkan, dalam lima hari terakhir, rata-rata jumlah pengguna yang meng-uninstall TikTok melonjak hingga 150 persen dibandingkan rata-rata tiga bulan sebelumnya.

Pekan lalu, TikTok mengonfirmasi akan membentuk perusahaan gabungan baru demi mengamankan operasionalnya di AS, dengan kepemimpinan entitas AS. Perusahaan menunjuk Adam Presser, mantan kepala operasional TikTok, sebagai CEO di entitas baru tersebut.

Namun, langkah ini justru memicu keraguan di kalangan pengguna, terutama setelah TikTok meminta pengguna menyetujui pembaruan kebijakan privasi. Dalam kebijakan tersebut, tercantum kemungkinan pengumpulan sejumlah data pribadi sensitif, seperti ras dan etnis asal, orientasi seksual, hingga status kewarganegaraan atau imigrasi, serta informasi keuangan.