Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Pasar merespons kabar bahwa pemerintahan Trump disebut mengancam akan menjerat Ketua The Fed Jerome Powell terkait kesaksian di Kongres mengenai proyek renovasi gedung The Fed. Powell menilai isu tersebut sebagai dalih untuk meningkatkan tekanan politik terhadap independensi bank sentral dan arah kebijakan moneter ke depan.
Sentimen Geopolitik Tambah Risiko Global
Selain faktor kebijakan moneter, sentimen geopolitik global turut membayangi pergerakan pasar. Meningkatnya ketegangan di Iran, yang menurut kelompok hak asasi manusia telah menewaskan lebih dari 500 orang, menambah kompleksitas risiko global di awal Tahun 2026.
Kondisi ini membuat minat investor terhadap aset aman (safe haven) tetap tinggi, sehingga membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pasar Tunggu Arah Suku Bunga AS
Pelaku pasar kini masih menantikan kejelasan arah kebijakan suku bunga AS, terutama terkait masa depan independensi The Fed dan siapa sosok yang akan memimpin bank sentral setelah masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei 2026.
Hingga saat ini, ekspektasi pasar masih mencerminkan peluang dua kali pemangkasan suku bunga AS sepanjang tahun ini. Namun, ketidakpastian politik dan geopolitik global membuat pergerakan rupiah tetap rentan terhadap tekanan eksternal. (*/rnc)
