Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Faktor global juga dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil US Treasury baik tenor dua tahun maupun tiga tahun, serta kemungkinan penurunan Fed Funds Rate yang lebih kecil,” jelasnya.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia meningkatkan intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF), baik offshore maupun onshore (DNDF), serta di pasar spot.
Langkah tersebut dinilai efektif dalam menjaga volatilitas Rupiah dan tetap sejalan dengan upaya pencapaian sasaran inflasi 2,5±1 persen pada 2026.
Ke depan, BI menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui intervensi yang terukur di pasar NDF, DNDF, dan spot, serta memperkuat strategi operasi moneter yang pro-market.
“Nilai tukar Rupiah diprakirakan akan stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” pungkas Perry. (*/rnc)
