Awalnya, demonstrasi dipicu oleh tekanan ekonomi. Nilai tukar rial Iran anjlok hingga setengahnya terhadap dolar AS sepanjang tahun lalu, sementara inflasi menembus 40 persen pada Desember. Namun, aksi protes kemudian berkembang menjadi seruan langsung yang menargetkan kepemimpinan negara.

Kelompok HAM Iran HRANA melaporkan sedikitnya 62 orang tewas sejak demonstrasi dimulai pada 28 Desember. Dari jumlah tersebut, 48 merupakan demonstran dan 14 personel keamanan.

Reaksi internasional pun bermunculan. Prancis, Inggris, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam kekerasan terhadap demonstran dan mendesak pemerintah Iran menahan diri. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyatakan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban jiwa.

“Setiap orang memiliki hak untuk berdemonstrasi secara damai, dan pemerintah bertanggung jawab untuk melindungi hak tersebut,” ujar juru bicara PBB, Stephane Dujarric.

Sementara itu, pemerintah Iran mencoba menerapkan pendekatan ganda: mengakui tuntutan ekonomi sebagai aspirasi sah, namun mengecam keras aksi kekerasan dan mengerahkan pasukan keamanan. Presiden Masoud Pezeshkian sebelumnya menyerukan pendekatan yang lebih ramah, namun Khamenei kini mengambil sikap jauh lebih keras.