Ba’a, RakyatNTT.ID – Dua dekade telah berlalu, namun kenangan pahit tragedi KMP Citra Mandala Bahari (JM Ferry) masih terus menghantui ingatan masyarakat Nusa Tenggara Timur. Kapal yang tenggelam di Selat Pukuafu pada 31 Januari 2006 itu membawa harapan ratusan orang untuk pulang, namun justru berakhir dalam duka yang tak terperi.

Hari ini, Sabtu, 31 Januari 2026, tepat 20 tahun (31/1/2006–31/1/2026) sejak tragedi itu terjadi. Kita kembali menundukkan kepala, mengenang mereka yang tak pernah sampai di tujuan dalam pelayaran dari Kupang menuju Rote.

Arwadi Adu, salah satu korban tenggelamnya kapal milik PT Jembatan Madura itu mengisahkan peristiwa kelam tersebut. Ia mengaku sebagai orang pertama yang ditemukan oleh KRI Pandrong sekitar pukul 03.00 WITA dini hari (1/2/2006). Menurutnya, kapal tenggelam sekitar pukul 20.00 Wita. Pada hari pertama korban yang berhasil diselamatkan oleh KRI Pandrong dan KRI Tongkol sebanyak 110 orang.

Warga Kelurahan Metina, Kota Ba’a ini mengatakan saat ia diselamatkan, ia menyampaikan kepada tim penyelamat untuk lakukan pencarian ke area pinggir laut karena para korban sudah tersebar. Saat ia terombang-ambing di lautan, ia mendengar banyak teriakan minta tolong dari para penumpang.

Awal Kisah Kelam di Pukuafu

KMP Citra Mandala Bahari berangkat dari Pelabuhan Bolok pukul 16.15 WITA sesuai manifes dengan tujuan Pelabuhan Pantai Baru, Rote. Perjalanan awal berlangsung normal hingga kapal memasuki Selat Pukuafu dan tiba-tiba dihantam badai besar.

“ABK kapal menyuruh semua penumpang memakai pelampung. Tidak lama kemudian lampu kapal padam, sempat menyala lagi, tapi suasana sudah panik,” kata Arwadi.

Tak lama berselang, penumpang kembali mendapat instruksi darurat. “Kami disuruh keluar dari ruangan dan berdiri di sebelah kanan kapal karena kapal sudah miring ke kiri.”

Beberapa saat kemudian, lampu kapal padam untuk kedua kalinya. Dalam kondisi gelap, dihantam gelombang dan angin kencang, kapal akhirnya tenggelam sekitar pukul 20.00 Wita.

“Saya ikut tenggelam bersama kapal. Setelah itu saya berusaha keluar dari dalam air. Saat muncul ke permukaan, saya dengar banyak orang berteriak minta tolong. Ada juga yang meniup peluit, tapi jaraknya sudah jauh,” kisah Arwadi.

Saat itu ia tidak memakai life jacket. Ia pun berupaya berenang sebisanya. “Tidak lama kemudian saya menemukan satu pelampung putih besar, lalu dapat lagi alat seperti sakoci tiup. Saya bertahan dengan posisi setengah badan di air, duduk di atas pelampung itu. Saya cuma bisa pasrah.”

Berjam-jam ia terombang-ambing di laut dalam gelap malam. Saat dini hari ia melihat sebuah kapal berputar-putar di lokasi kejadian. Kapal itu berputar beberapa kali mencari korban.

Akhirnya, ia menjadi korban pertama yang ditemukan pada pukul 03.00 KRI Pandrong. “Saya dinaikkan ke kapal perang itu. Di sana tubuh saya dikompres dengan air hangat yang dimasukkan dalam plastik untuk menghangatkan badan,” kata Arwadi.

Ia pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh kru KRI Pandrong yang telah menyelamatkannya dari keganasan Pukuafu. “Untuk semua pihak yang telah ikut dalam upaya penyelamatan para korban, di mana pun kalian berada, saya sampaikan terima kasih,” kata Arwadi.

Dokumen yang Menjadi Saksi Bisu

Waktu boleh berlalu, tetapi lembaran dokumen pelayaran yang tersisa—manifes penumpang, daftar awak kapal, dan Surat Izin Berlayar (Port Clearance)—tetap menjadi saksi bisu detik-detik terakhir sebelum kapal bertolak. Dokumen-dokumen itu berhasil diabadikan oleh salah satu korban selamat, Arwardi Adu, dan hingga kini menjadi kenangan pahit yang terus ia simpan dan ceritakan.

Dalam manifes akhir, tercatat 82 penumpang, 33 kendaraan, dan 23 awak kapal.

Pada pukul 16.15 WITA, Syahbandar Kupang menerbitkan Surat Izin Berlayar. KMP Citra Mandala Bahari dinyatakan laik laut dan resmi meninggalkan pelabuhan, membawa harapan untuk tiba dengan selamat di tanah Rote.

Tak ada yang menyangka, itu adalah perjalanan terakhir.

Dokumen manifest JM Ferry

Malam yang Mengubah Segalanya

Malam itu, cuaca ekstrem dan ganasnya arus Selat Pukuafu mengubah segalanya. KMP Citra Mandala Bahari yang dinakhodai Marianus Kotten dilaporkan mengalami gangguan kemudi sebelum akhirnya karam di lautan, menutup pelayaran dengan duka mendalam.

Jeritan, kepanikan, dan perjuangan hidup di tengah gelombang menjadi pengalaman yang tak pernah terhapus dari ingatan para penyintas.

Angka yang Mengguncang Nurani

Fakta paling menyayat hati adalah perbedaan mencolok antara data manifes dan jumlah korban yang kemudian tercatat dalam proses pencarian.

Selama 10 hari pencarian resmi (31 Januari–9 Februari 2006), tercatat:

  • 162 orang selamat
  • 107 orang meninggal dunia
  • Total korban ditemukan: 269 orang

Angka tersebut belum termasuk mereka yang hilang dan tak pernah ditemukan, baik anak-anak maupun orang dewasa, yang diyakini turut menjadi korban dalam tragedi ini.

Di balik ketidaksesuaian data dan kelalaian administrasi, ada nyawa-nyawa yang tak pernah tercatat, namun nyata ada dan dicintai oleh keluarga mereka.

Tiket JM Ferry

Duka yang Tak Terhapus Waktu

Tragedi JM Ferry bukan sekadar angka atau daftar nama di atas kertas. Mereka adalah ayah, ibu, anak, dan anggota keluarga, yang hingga kini sebagian jasadnya masih bersemayam di dasar laut, dipeluk sunyi oleh samudera.

Dua puluh tahun berlalu, namun luka bagi keluarga korban dan masyarakat NTT belum sepenuhnya sembuh. Setiap 31 Januari, ingatan itu kembali mengetuk, membawa kesedihan yang sama.

Menolak Lupa, Ambil Pelajaran

Peringatan 20 tahun tragedi JM Ferry adalah panggilan nurani bagi kita semua. Bahwa keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas utama. Akurasi manifes, kelayakan kapal, serta kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem bukan sekadar prosedur, melainkan soal nyawa manusia.

Hari ini, kita mengirimkan doa dan penghormatan tertinggi bagi seluruh korban, serta kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Bangkai JM Ferry mungkin telah lama membisu di dasar Selat Pukuafu, tetapi sejarah dan nama-nama mereka akan tetap hidup dalam ingatan kita.

Rest in peace untuk seluruh korban KMP Citra Mandala Bahari. Semoga samudera memberi kedamaian abadi bagi jiwa-jiwa kalian. (rnc12)