“ABK kapal menyuruh semua penumpang memakai pelampung. Tidak lama kemudian lampu kapal padam, sempat menyala lagi, tapi suasana sudah panik,” kata Arwadi.

Tak lama berselang, penumpang kembali mendapat instruksi darurat. “Kami disuruh keluar dari ruangan dan berdiri di sebelah kanan kapal karena kapal sudah miring ke kiri.”

Beberapa saat kemudian, lampu kapal padam untuk kedua kalinya. Dalam kondisi gelap, dihantam gelombang dan angin kencang, kapal akhirnya tenggelam sekitar pukul 20.00 Wita.

“Saya ikut tenggelam bersama kapal. Setelah itu saya berusaha keluar dari dalam air. Saat muncul ke permukaan, saya dengar banyak orang berteriak minta tolong. Ada juga yang meniup peluit, tapi jaraknya sudah jauh,” kisah Arwadi.

Saat itu ia tidak memakai life jacket. Ia pun berupaya berenang sebisanya. “Tidak lama kemudian saya menemukan satu pelampung putih besar, lalu dapat lagi alat seperti sakoci tiup. Saya bertahan dengan posisi setengah badan di air, duduk di atas pelampung itu. Saya cuma bisa pasrah.”

Berjam-jam ia terombang-ambing di laut dalam gelap malam. Saat dini hari ia melihat sebuah kapal berputar-putar di lokasi kejadian. Kapal itu berputar beberapa kali mencari korban.

Akhirnya, ia menjadi korban pertama yang ditemukan pada pukul 03.00 KRI Pandrong. “Saya dinaikkan ke kapal perang itu. Di sana tubuh saya dikompres dengan air hangat yang dimasukkan dalam plastik untuk menghangatkan badan,” kata Arwadi.