Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (19/12/2025). Mata uang Garuda terkoreksi 27 poin atau sekitar 0,16 persen ke level Rp16.750 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari luar negeri, tekanan datang dari rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) inti Amerika Serikat yang turun ke level terendah sejak awal 2021, berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS).
“Baik CPI utama maupun CPI inti mengalami penurunan. Namun, para ekonom mengingatkan bahwa penutupan pemerintah AS selama 43 hari berpotensi mendistorsi sebagian data yang dirilis,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Meski inflasi AS melandai, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve belum sepenuhnya menguat. Pasar cenderung bersikap hati-hati karena data ketenagakerjaan AS masih solid, sebagaimana tercermin dalam laporan klaim pengangguran awal terbaru.
Pelaku pasar kini menanti rilis indikator inflasi favorit The Fed, yakni Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE), serta Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat.
Dari sisi geopolitik, pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait peluang tercapainya kesepakatan damai perang Ukraina turut menjadi perhatian. Namun, analis menilai langkah lanjutan AS yang berpotensi menargetkan pasokan minyak Rusia dan Venezuela justru dapat meningkatkan risiko gangguan pasokan global.
Sementara dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari peringatan Bank Dunia terkait kesehatan fiskal Indonesia dalam jangka menengah. Bank Dunia memproyeksikan defisit APBN akan melebar secara bertahap hingga mendekati batas psikologis 3 persen terhadap PDB pada 2027.
Defisit fiskal diperkirakan berada di level 2,8 persen PDB pada 2025, bertahan pada 2026, lalu melebar menjadi 2,9 persen pada 2027. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi defisit Oktober 2025 sebesar 2,0 persen PDB, serta target defisit APBN 2026 sebesar 2,7 persen.
Tekanan fiskal tersebut diperparah oleh penurunan rasio pendapatan negara. Bank Dunia mencatat rasio pendapatan terhadap PDB diproyeksikan turun dari 13,5 persen pada 2022 menjadi 11,6 persen pada 2025, sebelum sedikit membaik ke 11,8 persen pada 2026.
Konsekuensinya, rasio utang pemerintah diperkirakan terus meningkat. Dari 39,8 persen PDB pada 2024, rasio utang diproyeksikan naik menjadi 40,5 persen pada 2025, 41,1 persen pada 2026, hingga 41,5 persen pada 2027, di tengah biaya pendanaan yang masih tinggi.
Bank Dunia juga mencatat rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara telah mencapai 20,5 persen hingga Oktober 2025, yang berarti sekitar seperlima pendapatan negara terserap untuk membayar bunga utang.
Kondisi tersebut dinilai mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk belanja produktif dan meningkatkan risiko terhadap stabilitas makroekonomi.
Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS. (*/rnc)
