Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dari sisi geopolitik, pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait peluang tercapainya kesepakatan damai perang Ukraina turut menjadi perhatian. Namun, analis menilai langkah lanjutan AS yang berpotensi menargetkan pasokan minyak Rusia dan Venezuela justru dapat meningkatkan risiko gangguan pasokan global.
Sementara dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari peringatan Bank Dunia terkait kesehatan fiskal Indonesia dalam jangka menengah. Bank Dunia memproyeksikan defisit APBN akan melebar secara bertahap hingga mendekati batas psikologis 3 persen terhadap PDB pada 2027.
Defisit fiskal diperkirakan berada di level 2,8 persen PDB pada 2025, bertahan pada 2026, lalu melebar menjadi 2,9 persen pada 2027. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi defisit Oktober 2025 sebesar 2,0 persen PDB, serta target defisit APBN 2026 sebesar 2,7 persen.
Tekanan fiskal tersebut diperparah oleh penurunan rasio pendapatan negara. Bank Dunia mencatat rasio pendapatan terhadap PDB diproyeksikan turun dari 13,5 persen pada 2022 menjadi 11,6 persen pada 2025, sebelum sedikit membaik ke 11,8 persen pada 2026.
Konsekuensinya, rasio utang pemerintah diperkirakan terus meningkat. Dari 39,8 persen PDB pada 2024, rasio utang diproyeksikan naik menjadi 40,5 persen pada 2025, 41,1 persen pada 2026, hingga 41,5 persen pada 2027, di tengah biaya pendanaan yang masih tinggi.
