Kupang, RakyatNTT.ID Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Samuel B. Pandie, S.Th, mengajak seluruh jemaat untuk menutup tahun 2025 dengan sikap iman yang matang, kewaspadaan, serta tanggung jawab sosial di tengah potensi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur.

Dalam pesannya menjelang akhir tahun, Pdt. Samuel menyampaikan rasa syukur atas penyertaan Tuhan yang menuntun umat melewati berbagai tantangan sepanjang 2025.

Namun ia mengingatkan bahwa memasuki penghujung tahun, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hujan lebat, angin kencang, banjir, longsor, dan gelombang tinggi yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Damai itu rohani, tetapi damai juga membutuhkan persiapan. Karena itu, mari kita merayakan akhir tahun dengan iman yang hangat dan akal sehat yang tajam,” ujar Ketua Sinode GMIT.

Ia menekankan pentingnya menjaga keselamatan keluarga sebagai prioritas utama. Jemaat diminta aktif memantau informasi cuaca, membatasi perjalanan yang tidak mendesak terutama pada malam puncak perayaan, serta memastikan kendaraan dalam kondisi laik jalan bila harus bepergian.

Selain itu, masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana diimbau menyiapkan langkah antisipasi, seperti mengamankan dokumen penting, memastikan saluran air berfungsi baik, serta saling memperhatikan tetangga, khususnya lansia, anak-anak, dan keluarga rentan.

Selain aspek keselamatan, Pdt. Samuel juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) selama perayaan akhir tahun. Ia mengajak umat merayakan pergantian tahun dengan sukacita yang tidak menimbulkan gangguan atau risiko.

“Hindari konsumsi minuman keras berlebihan, jauhi petasan yang membahayakan, dan mari bijak menggunakan bunyi-bunyian seperti terompet. Kegembiraan harus seimbang dengan penghormatan kepada sesama, terutama orang sakit, bayi, dan lansia,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan jemaat agar tidak mudah terpancing provokasi, baik di jalan maupun di media sosial. Menurutnya, hoaks dan emosi sering berjalan beriringan dan dapat merusak kedamaian. Karena itu, masyarakat diimbau memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

“Damai tidak lahir dari viral, damai lahir dari kedewasaan,” katanya.

Sebagai pesan gerejawi, Ketua Sinode GMIT menegaskan bahwa gereja dipanggil menjadi tanda pengharapan di tengah situasi rentan. Dalam kondisi cuaca ekstrem, iman bukan alasan untuk bertindak nekat, melainkan kekuatan untuk saling menjaga dan menguatkan.

“Mari jadikan akhir tahun ini sebagai momen memperbarui komitmen: lebih peka pada sesama, lebih cepat menolong, dan lebih ringan berbagi. Jika ada yang kesulitan, mari hadir. Jika ada yang takut, mari menenangkan,” ujarnya.

Menutup pesannya, Pdt. Samuel mengajak seluruh jemaat memasuki tahun 2026 dengan doa, kewaspadaan, dan kasih yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Selamat menutup tahun 2025. Mari masuk tahun 2026 dengan doa, kewaspadaan, dan kasih yang hidup. Tuhan memberkati,” pungkasnya. (rnc04)