Berdasarkan pengamatan citra satelit, terlihat adanya pertumbuhan awan konvektif di sekitar pusat sirkulasi bibit siklon, meskipun belum terorganisasi dengan baik dan masih bersifat sporadis, terutama di bagian utara sistem.

“Dalam 24 jam ke depan, sistem ini cenderung persisten dan diperkirakan mengalami peningkatan kecepatan angin dalam 24 hingga 48 jam ke depan, ditandai dengan sirkulasi yang semakin tertutup dengan kecepatan angin maksimum mencapai 20 knot,” tulis BMKG.

BMKG memperkirakan Bibit Siklon Tropis 96S akan bergerak ke arah timur-tenggara, kemudian berbelok ke arah barat laut hingga barat dalam periode 48–72 jam ke depan. Secara umum, potensi bibit siklon ini berkembang menjadi siklon tropis dalam 24–72 jam masih berada pada kategori rendah.

Iklan

Wilayah Terdampak

BMKG memprakirakan sejumlah dampak cuaca akibat Bibit Siklon Tropis 96S, antara lain:

  • Hujan sedang hingga lebat di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
  • Angin kencang di wilayah pesisir selatan Bali hingga Nusa Tenggara Timur.
  • Gelombang laut sedang (1,25–2,5 meter) di perairan selatan Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Samudra Hindia selatan Jawa Tengah hingga DI Yogyakarta, perairan selatan Pulau Lombok hingga Pulau Timor, serta Laut Sawu.
  • Gelombang laut tinggi (2,5–4 meter) di Selat Bali bagian selatan dan Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pelaku aktivitas pelayaran, untuk meningkatkan kewaspadaan serta terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi dari BMKG. (*/rnc)