Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
PAGI yang cerah, Jumat 7 November 2025. Saya iseng mengirim pesan WhatsApp ke Abang Yopi Lati. Saya hanya ingin tahu seperti apa dinamika Konferda PDI Perjuangan NTT hari itu—hari penetapan Ketua DPD PDIP NTT yang baru. Tak disangka, Abang Yopi malah mengajak saya langsung datang ke Hotel Harper untuk meliput.
Saya sempat menolak, “Abang Gusti Brewon sonde undang beta, na,” jawab saya bercanda. Tapi akhirnya saya mengiyakan juga. Kalau senior yang perintah, mana bisa menolak.
Sebelum ke Harper, saya singgah dulu di kantin Off The Record—tempat nongkrong para wartawan desk politik. Di sana saya bertemu Abang Gabriel Suku Kotan (GSK), mantan anggota DPRD NTT, yang langsung menyapa dengan senyum khasnya.
“Ade, Yunus yang terpilih kah jadi Ketua DPD PDI Perjuangan NTT?” tanyanya saat saya menjabat tangannya.
Saya menjawab singkat, “Mungkin, senior, tapi belum pasti juga.”
GSK mencoba menelepon Abang Yunus Takandewa, tapi tak tersambung. Ia juga menghubungi Abang Eman Kolfidus, sesama mantan anggota DPRD dari PDI Perjuangan—hasilnya sama. Semua sedang rapat di ruang Konferda.
Ia menatap saya serius, “Ade, ini harus Yunus yang jadi ketua. Sebagai kawan, saya dukung, meski saya orang Demokrat.”
Kami pun sepakat berangkat ke Harper, sekadar “pesiar politik”.
Sesampainya di sana, kabar itu resmi—Abang Yunus Takandewa terpilih menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan NTT.
Dari Dinding Bebak ke Panggung Politik
Mendengar namanya disebut, ingatan saya melayang ke masa belasan tahun lalu. Saya mengenal Abang Yunus jauh sebelum dunia politik menegaskan identitasnya. Waktu itu, saya tinggal di kos-kosan yang sama dengan adik kandungnya, Yanto Pandabanjal, di Oesapa.
Kosan kami sederhana: berdinding bebak, dilapisi koran bekas, tapi penuh tawa dan mimpi. Di sanalah kamis sering berdiskusi panjang malam-malam—tentang masa depan, rakyat, dan cita-cita.
Saat itu, abang Yunus menjabat sebagai Ketua KPMT di NTT (saya sudah lupa kepanjangannya). Namun lembaga itu kemudian tutup karena kebijakan nasional yang mematikan bantuan donor. Sejak itu, Abang Yunus menganggur, tapi semangatnya tidak pernah padam.
Tahun 2006, saya bergabung di Tabloid Fortuna, yang dipimpin Abang Fidel Nogor—sesama alumni GMNI Kupang. Beberapa tahun kemudian, Abang Yunus ikut bergabung dan diangkat menjadi pemred, menggantikan posisi yang sebenarnya disiapkan untuk saya. Saya pun tak keberatan.
Ketika saya mendirikan Tabloid Savana dan Savanaparadise.com, Abang Yunus rutin datang ke sekretariat—yang juga sekaligus kos saya di Gang Damai, Jalan Palapa. Ia saya dapuk menjadi redaktur eksekutif. Malam-malam kami penuh kopi dan diskusi bersama Lorens Mila Dadi, yang kini menjadi pengurus DPW PSI NTT.
Saya masih ingat, Abang Yunus datang ke rumah sakit Wirasakti waktu saya diopname. Ia membantu biaya pengobatan, padahal saya tahu persis, saat itu ia sendiri sedang tak punya uang.
Ada kisah yang tak terlupakan: ia pernah kehabisan uang dan tak bisa membayar kontrakan. Abang Fidel kemudian berinisiatif mencetak koran edisi khusus Konferda PDI Perjuangan, dan seluruh hasil penjualannya digunakan untuk menolong Abang Yunus.
Perjalanan Panjang Sang Kader
Dari kisah itu saya belajar satu hal: roh GMNI adalah saling menopang. Konflik boleh datang dan pergi, tapi persaudaraan tetap hidup.
Abang Yunus adalah buktinya. Anak miskin dari lereng pegunungan itu kini menapaki panggung politik, bukan karena keberuntungan, tapi karena konsistensi.
Ia pernah gagal dua kali saat maju sebagai caleg DPRD NTT. Tapi ia tidak menyerah. Baru pada percobaan ketiga, ia berhasil duduk sebagai anggota DPRD NTT, lalu menjadi Wakil Ketua DPRD NTT di periode berikutnya.
Saya masih ingat masa kampanye pertamanya di Sumba Timur, tahun 2007 silam. Kami berkeliling dari rumah ke rumah bermodalkan semangat. Kami menggunakan motor Mega Pro, berkeliling memasang stiker hingga larut malam. Saat kehausan, saya bilang, “Abang, kios ini sonde jual air.”
“Yang ada apa?” tanya Abang Yunus.
“Alciko, Bang,” jawab saya.
“Hantam sudah, adik!” katanya. Malam itu kami meneguk Alciko, minuman rakyat, sambil tertawa di bawah langit gelap. Tak lama kemudian, ban motor bocor, dan seperti biasa, sayalah yang harus dorong, karena paling junior.
Dari Gubuk ke Gedung Rakyat
Kini, Abang Yunus berdiri di puncak baru. Dari sekretaris DPD, ia naik menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan NTT. Sebuah tanggung jawab besar yang menegaskan perjalanan panjang seorang kader akar rumput.
Sebelum dikenal sebagai politisi matang, ia hanya seorang mahasiswa idealis.
Bersama abang Fidel, abang Yunus banyak dibimbing oleh abang Eman Kolfidus yang saat itu menjadi Ketua DPC GMNI Kupang.
Abang Yunus tinggal di sebuah kos-kosan reot di Oepura. Saban hari ia berdiskusi hingga larut malam bersama kawan-kawan seperjuangan GMNI tentang rakyat, demokrasi, dan keadilan sosial.
Dari gubuk itu lahir banyak gagasan dan keyakinan bahwa perjuangan tak berhenti di ruang kuliah.
Kini, meski tak lagi tinggal di sana, semangat itu tetap menyala di dadanya. Dari seorang aktivis jalanan menjadi pemimpin partai besar. Kisahnya menjadi pengingat bahwa mimpi yang disemai dengan ketulusan akan menemukan jalannya sendiri.
Saya sendiri kini menapaki jalan politik yang berbeda—berjuang bersama NasDem setelah dulu sama-sama tumbuh di PDI Perjuangan. Saya pernah ikut bertarung sebagai caleg DPRD NTT, meski hasilnya belum sampai ke kursi legislatif. Tapi itu tak pernah memutus tali persaudaraan kami.
Kami mungkin berbeda warna bendera, tapi darah perjuangan kami sama.
Kami tidak sedarah, tapi kami bersaudara. Merdeka! (*)
