Fokus pada perubahan perilaku dan mengatasi resistensi psikologis para aktor pendidikan terhadap transformasi digital.

2. Kebijakan Afirmatif

Mengedepankan alokasi sumber daya secara adil, terutama bagi sekolah-sekolah di wilayah 3T, guna memastikan kesetaraan akses pendidikan digital.

3. Local Political Will

Mendorong komitmen politik pemerintah daerah dan DPR untuk menerbitkan regulasi yang menyelaraskan kebijakan pusat dengan kondisi lapangan di NTT.

Dalam penutup presentasinya, Dr. Asadoma menegaskan komitmennya terhadap pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

“Setiap anak NTT adalah masa depan. Melalui pendidikan yang inklusif, mereka bukan hanya bermimpi, tetapi berhak mendapatkan dunia yang lebih adil dan sejahtera,” ujarnya.

Perjalanan Studi yang Menginspirasi Generasi Muda

Keberhasilan meraih gelar doktor ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik Johanis Asadoma. Ia mengaku proses studinya sempat tertunda hingga enam tahun karena padatnya tugas sebagai pemimpin daerah. Meski demikian, ia tak menyerah.

“Sempat muncul pikiran ‘cukuplah, untuk apa lagi semuanya sudah dicapai. Namun sebagai pemimpin daerah, saya merasa harus menunjukkan kemauan yang tinggi. Pencapaian ini dapat menjadi motivasi bagi generasi muda NTT,” ungkapnya.

Kontribusi bagi Dunia Akademik dan Pembangunan Daerah

Pencapaian akademik ini sekaligus menegaskan peran Undana sebagai lembaga pendidikan tinggi yang melahirkan gagasan strategis bagi pembangunan daerah. Penelitian Johanis Asadoma dinilai memberikan kontribusi penting bagi perumusan kebijakan transformasi pendidikan digital yang inklusif di NTT. (*/rnc)