Perse Ende pun terus melaju hingga babak semifinal. Walau gagal ke final karena kalah dari Persebata Lembata, namun Perse pulang dengan kepala tegak karena mendapat gelar juara IV.

Dari segi statistic, Perse Ende tak buruk-buruk amat. Tiga kali bermain, Perse sukses mencetak lima gol. Ini pertanda lini depan cukup tajam dan membahayakan. Namun, sebaliknya kebobolan 3 gol jadi alarm. Jika lini pertahanan tak dibenahi bisa beri keuntungan bagi tim lawan.

Apakah Perse benar-benar meledak di fase knock out? Pembuktiannya Kamis malam ini melawan Persematim.

Sebaliknya Persematim menatap 16 besar dengan penuh optimisme setelah dua kali meraih kemenangan di Grup D. Grup yang persaingannya paling ketat. Mendapat 6 poin, Persematim pun jadi runner up namun memiliki poin sama dengan sang juara Grup Bajak Laut FC.

Secara statistic, Persematim tak begitu mencolok. Sukses mencetak 4 gol dan kebobolan 2 gol. Namun atmosfer babak 16 besar berbeda. Tim yang biasa-biasa saja di fase grup terkadang meledak ketika tampil di babak knock out.

Persekota Koepang sudah jadi buktinya. Tampil tak meyakinkan di Grup B bahkan nyaris tak lolos dari grup, tiba-tiba mengamuk di 16 besar dan berhasil mengalahkan Persamba Manggarai Barat yang begitu superior.