Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Spekulasi tentang keberadaan Homo floresiensis—spesies manusia purba yang diyakini punah ribuan tahun lalu—kembali mencuri perhatian publik. Klaim bahwa manusia kerdil mirip hobbit tersebut masih berkeliaran di pedalaman Flores memicu perdebatan ilmiah serta rasa penasaran masyarakat.
Homo floresiensis, atau yang kerap disebut “manusia Flores”, memiliki ciri-ciri fisik unik: tinggi badan sekitar 106 cm, otak berukuran kecil, tidak memiliki dagu, dan telapak kaki yang rata. Ciri fisiknya membuat spesies ini sering disamakan dengan karakter hobbit dari karya Tolkien, The Lord of the Rings.
Fosil Berusia 12.000 Tahun dan Awal Perdebatan
Spesies ini diyakini telah punah puluhan ribu tahun lalu. Namun, penemuan fosil pada 2004 di Goa Liang Bua, Flores, kembali membuka diskusi baru. Tim arkeolog menemukan serpihan tulang yang diperkirakan berasal dari 12.000 tahun lalu—periode ketika manusia modern telah memiliki kemampuan berkebun, beternak, serta memelihara hewan, bahkan telah mengenal kepercayaan spiritual.
Temuan itu memantik perbedaan pendapat di kalangan peneliti, terutama mengenai kemungkinan Homo floresiensis hidup lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Kesaksian Warga Lokal Picu Klaim Baru
Setelah 18 tahun sejak penemuan tersebut, antropolog Gregory Forth mengungkapkan temuan mencengangkan. Berdasarkan kesaksian sekitar 30 warga lokal suku Lio, ia meyakini ada makhluk setengah manusia–setengah kera yang masih berkeliaran di pedalaman Flores. Menurut Forth, deskripsi makhluk itu konsisten dengan karakteristik Homo floresiensis.
Ilmuwan Ragu Homo Floresiensis Masih Eksis
Meski demikian, klaim Forth dibantah oleh peneliti Smithsonian Institution, Matthew Tocheri. Ia menilai peluang Homo floresiensis masih hidup hampir mustahil.
“Saya tak akan menghabiskan waktu untuk mencari tahu keberadaan mereka. Sudah pasti mereka telah punah,” ujar Tocheri, dikutip dari IFLScience.
Menurutnya, suatu spesies hanya dapat bertahan jika populasinya berada pada angka minimal tertentu. Dalam kasus ini, 30 saksi mata dianggap terlalu sedikit untuk menandakan keberlangsungan sebuah spesies di tengah dominasi manusia modern.
Pendapat Tocheri diperkuat oleh ilmuwan Flinders University, Corey Bradshaw. “Untuk hitung-hitungan dasarnya, 50 individu efektif dibutuhkan untuk menghindari kepunahan sebuah spesies. Ini setara dengan populasi 250 sampai 500 orang,” jelas Bradshaw.
Penelitian Berlanjut, Misteri Tetap Menggantung
Hingga kini, belum ada bukti fisik baru yang mendukung hipotesis Homo floresiensis masih hidup. Perdebatan antara kesaksian warga lokal dan bukti ilmiah terus menjadi sorotan, sementara misteri tentang manusia purba Flores tetap menggantung dan memancing rasa ingin tahu publik. (*/CNBC/rnc)
