Membaca ANB, saya tertegun. Akhirnya ada pejabat Indonesia yang secara konstruktif mengkritisi kiprah para ilmuwan Indonesia. Melalui kritiknya, dia berharap, para ilmuwan Indonesia memiliki budaya hitozukuri dan monozukuri dalam bertugas.

Ide ANB itu mengingatkan saya pada tulisan di Kompas tanggal 16 Januari, 2013. Judulnya “Daniel Day-Lewis dan Jessica Chastain: Penghargaan untuk Totalitas” (hlm. 16). Walaupun berasal dari Amerika dan dunia mereka bukan dunia akademis, kedua bintang film itu menghayati dan mengamalkan secara konsisten filosofi hitozukuri dan monozukuri itu.

Dalam artikel itu, diungkapkan bagaimana totalnya kedua bintang film itu dalam melaksanakan perannya. Daniel Day-Lewis, misalnya, ketika berlatih memerankan Christy Brown, seorang penulis Irlandia, dalam film My Left Foot (1989), yang menderita cerebral palsy, hanya menggunakan jari-jari salah satu kakinya untuk menulis. Karena itu, di kala istrahat shooting sekalipun, Daniel Day-Lewis dibopong dan makanannya disuap oleh kru film. Saat itu, dia “menjadi” Christy Brown 100%. Karena itu, dia memperoleh penghargaan Oscar.

Ketika berperan sebagai Hawkeye, dalam film The Last of the Mohicans, juga sama. Dia sangat total. Day-Lewis berburu dan hanya makan daging hasil buruannya sendiri, persis seperti Hawkeye. Demikian juga saat berperan sebagai seorang penduduk Irlandia Utara, dalam film In the Name of the Father. Dalam salah satu adegan film itu, aparat Inggris menangkapnya. Tuduhannya: dia terlibat kejahatan. Selama tiga hari berturut-turut, dia tidak tidur sebelum gambar interogasinya diambil. Hasilnya mengagumkan. Dalam adegan itu, terlihat dengan jelas betapa besar rasa kecewa yang terpancar dari wajahnya. Rasa tak berdaya seorang terdakwa, yang mengalami perlakuan sewenang-wenang penguasa jahat, tergambar dengan begitu nyata. Penonton pun terpukau.