Ia menambahkan bahwa seni memiliki peran penting dalam pembentukan karakter generasi muda. Melalui tari, musik tradisional, teater, dan kesenian lainnya, anak-anak diajak memahami identitas, nilai, serta kearifan lokal yang merupakan warisan leluhur.

Budaya sebagai Fondasi Pendidikan

Bupati Simplisius menegaskan bahwa pendidikan yang tidak berakar pada budaya akan kehilangan identitasnya. Karena itu, ia mendukung penuh agar sanggar ini menjadi motor penggerak dalam menghidupkan kembali budaya lokal yang mulai tergerus perkembangan zaman.

“Saya berharap RSC bukan hanya menjadi tempat berlatih, tetapi juga menjadi ruang lahirnya inovasi, kreativitas, dan menjadi duta budaya Nagekeo di berbagai ajang seni tingkat daerah hingga nasional,” tegasnya.

Iklan

RSC Kembangkan 5 Cabang Seni dengan 77 Siswa

Ketua Panitia, Marselinus Mosa, menjelaskan bahwa Sanggar Rowet Savana Community akan membina lima cabang seni, yaitu:

  • Seni Tari (tradisional dan modern)
  • Seni Musik
  • Seni Teater
  • Seni Rupa
  • Seni Budaya Lokal (termasuk tenun Lipa Dhowik)

Setiap cabang dibina oleh pelatih khusus dengan jadwal latihan rutin dua kali seminggu. Hingga saat ini, tercatat 77 siswa telah bergabung.

Ia juga menjelaskan makna nama “Rowet Savana Community”.
Rowet merujuk pada bukit indah yang menjadi ikon Nggolonio, sementara Savana menggambarkan hamparan ilalang keemasan saat senja—simbol ruang bebas untuk berkarya dan berinovasi.

Pendidikan Berbasis Budaya sebagai Benteng Globalisasi

Kepala SMPN 6 Aesesa menegaskan bahwa pendidikan sejati harus berakar pada budaya. Dengan adanya sanggar seni ini, sekolah tidak hanya mencetak siswa yang unggul secara akademik, tetapi juga generasi yang berkarakter, beridentitas, dan bangga terhadap budaya mereka.