Jakarta, RakyatNTT.ID Kebiasaan merokok masih menjadi faktor terbesar penyebab kanker paru, disusul paparan polusi udara, asap rokok pasif, dan bahan kimia berbahaya di lingkungan industri. Namun, tren baru seperti penggunaan vape atau rokok elektrik kini ikut memicu perhatian serius dari para ahli kesehatan.

Senior Consultant in Medical Oncology di Parkway Cancer Centre (PCC), Dr. Chin Tan Min, menegaskan bahwa vape bukanlah alternatif yang lebih aman dibanding rokok. Meskipun tampilannya berbeda, vape tetap mengandung nikotin serta zat kimia berbahaya yang dapat merusak jaringan paru-paru dan memicu kecanduan.

“Meski belum terbukti langsung menjadi penyebab kanker paru, dampaknya terhadap kesehatan paru tidak boleh dianggap remeh,” tegasnya dalam pernyataan resmi, Minggu (16/11/2025).

Kasus Kanker Paru Terus Meningkat

Data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022 menunjukkan terdapat 2,48 juta kasus kanker paru pada periode 2018–2022, atau sekitar 12,5% dari total kasus kanker global. Angka ini menjadikan kanker paru sebagai jenis kanker dengan kasus tertinggi di dunia.

Situasi serupa juga terjadi di Indonesia. Jumlah kasus baru meningkat dari 30.023 kasus (2018) menjadi 38.904 kasus (2022), atau sekitar 9,5% dari seluruh kasus kanker nasional.