Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung menguat di kisaran Rp16.570 hingga Rp16.620 pada perdagangan Kamis (30/10/2025).
Mengutip data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (29/10/2025) rupiah ditutup melemah tipis 9 poin atau 0,05% ke level Rp16.617 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS naik 0,20% menjadi 98,86, mencerminkan penguatan greenback di pasar global.
Pergerakan Mata Uang Asia Bervariasi
Mata uang di kawasan Asia menunjukkan pergerakan beragam.
- Won Korea menguat 0,05%
- Peso Filipina naik 0,70%
- Sementara yen Jepang dan rupee India masing-masing melemah 0,08% dan 0,05% terhadap dolar AS.
Pergerakan ini menunjukkan pasar masih berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Pasar Menanti Keputusan The Fed
Pengamat Ekonomi dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pasar global menanti hasil rapat kebijakan dua hari The Fed yang dimulai Selasa (29/10/2025).
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, hampir 100% pelaku pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, melanjutkan tren penurunan suku bunga kedua berturut-turut setelah September lalu.
“Investor memfokuskan perhatian pada arahan kebijakan selanjutnya. Bila Powell menandakan jeda pemangkasan atau menyoroti risiko inflasi, hal itu bisa mendorong penguatan dolar AS,” ujar Ibrahim, Rabu (29/10/2025).
Faktor Geopolitik: Sanksi AS-Rusia dan Pemulihan Hubungan AS-China
Dari sisi geopolitik, Presiden Donald Trump memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia, menargetkan perusahaan energi besar seperti Lukoil dan Rosneft terkait konflik di Ukraina.
Sementara hubungan dagang AS–China menunjukkan perbaikan setelah kedua negara mencapai kesepakatan kerangka kerja tarif dan kontrol ekspor logam tanah jarang. Langkah ini meningkatkan harapan meredanya ketegangan global.
Trump juga mengumumkan pemangkasan tarif 20% atas impor bahan kimia prekursor fentanil dari Tiongkok, menjelang pertemuan bilateral dengan Presiden Xi Jinping di Korea Selatan pada Kamis (31/10/2025).
Fundamental Domestik Tetap Kuat
Dari dalam negeri, lembaga pemeringkat asal Jepang, Rating and Investment Information, Inc. (R&I), mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB+ dengan outlook stabil per 24 Oktober 2025.
R&I menilai inflasi Indonesia tetap stabil, rasio utang pemerintah terkendali, dan kebijakan fiskal serta moneter masih prudent.
Mereka memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai sekitar 5% di 2025, dengan inflasi tetap dalam target dan defisit transaksi berjalan sekitar 1% dari PDB. Pemerintah juga diharapkan menjaga defisit anggaran di bawah 3% dari PDB.
Respons Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) menyambut positif keputusan R&I, menilai hal itu sebagai cerminan kepercayaan investor internasional terhadap stabilitas ekonomi nasional.
BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tengah ketidakpastian global. (*/rnc)
