New Delhi, RakyatNTT.ID Kepolisian India membuka penyelidikan kasus dugaan pembunuhan tidak berencana (manslaughter) setelah sedikitnya 14 anak meninggal dunia akibat diduga mengonsumsi sirup batuk bermerek Coldrif yang mengandung zat beracun.

Kasus ini kembali mencoreng reputasi industri farmasi India, yang dalam beberapa tahun terakhir kerap dikaitkan dengan tragedi serupa di berbagai negara.

Sebagian besar korban berusia di bawah lima tahun dan meninggal akibat gagal ginjal akut dalam sebulan terakhir setelah minum sirup tersebut.

Iklan

Berdasarkan laporan kepolisian yang dikutip Reuters, Coldrif Syrup diketahui mengandung diethylene glycol (DEG) hingga 500 kali lipat di atas batas aman yang ditetapkan otoritas kesehatan India.

“Semua anak awalnya mengalami gejala flu atau demam, lalu diberi Coldrif Syrup. Setelah itu mereka mengalami kesulitan buang air kecil dan gangguan ginjal akut,” tulis laporan polisi dari negara bagian Madhya Pradesh, dikutip Reuters pada Selasa (7/10/2025).

Kandungan Zat Beracun Melebihi Batas Aman

Diethylene glycol (DEG) merupakan bahan kimia yang biasa digunakan pada produk antifreeze, kosmetik, dan pelumas industri, namun sangat berbahaya jika dikonsumsi manusia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), zat ini dapat memicu muntah, nyeri perut, gagal ginjal akut, hingga kematian.

Hasil uji laboratorium di Tamil Nadu dan Madhya Pradesh menunjukkan kadar DEG masing-masing mencapai 48,6% dan 46,28%, jauh di atas batas aman 0,1% yang ditetapkan pemerintah India dan WHO.

Dokter dan Produsen jadi Tersangka

Pihak kepolisian telah menahan seorang dokter bernama Praveen Soni, yang meresepkan sirup tersebut kepada sebagian besar korban.

Selain itu, Sresan Pharma, produsen Coldrif Syrup, juga ditetapkan sebagai tersangka utama dalam kasus ini.

Kementerian Kesehatan India menyatakan telah merekomendasikan pencabutan izin produksi Sresan Pharma, sementara sejumlah negara bagian sudah melarang peredaran Coldrif Syrup yang selama ini hanya dijual di pasar domestik India.

Citra Industri Farmasi India Kembali Tercoreng

India merupakan produsen obat terbesar ketiga di dunia berdasarkan volume, dengan nilai industri mencapai US$50 miliar (sekitar Rp800 triliun).

Negara ini memasok sekitar 40% obat generik di AS, 25% di Inggris, dan lebih dari 90% obat di berbagai negara Afrika.

Namun, tragedi kali ini kembali menyoroti lemahnya pengawasan obat di India, menyusul kasus serupa di Gambia, Uzbekistan, dan Kamerun sejak 2022, yang menyebabkan lebih dari 140 anak meninggal dunia akibat sirup batuk asal India.

Kasus sejenis juga pernah terjadi di India pada 2019, menewaskan 12 anak karena kandungan racun yang sama.

Celah Regulasi Pengawasan Obat Domestik

Sejak tahun 2023, pemerintah India mewajibkan seluruh sirup yang diekspor menjalani uji laboratorium di fasilitas pemerintah.

Namun, aturan tersebut belum diterapkan untuk produk yang dijual di dalam negeri, sehingga risiko bagi konsumen domestik tetap tinggi.

Sirup batuk biasanya dibuat dengan pelarut propylene glycol, yang memiliki dua jenis: farmasi dan industri.

Versi industri lebih murah, tetapi tidak layak dikonsumsi karena sering mengandung zat berbahaya seperti diethylene glycol.

Laporan Reuters menyebutkan bahwa dalam beberapa kasus sebelumnya, bahan kimia versi industri ini digunakan oleh produsen sirup untuk menekan biaya produksi.

Kementerian Kesehatan: Risiko Sirup Batuk Lebih Besar dari Manfaat

Kementerian Kesehatan India menegaskan bahwa manfaat sirup batuk untuk anak sangat terbatas, sementara risikonya jauh lebih besar.

“Obat batuk memiliki manfaat yang sangat terbatas bagi anak-anak, namun membawa risiko signifikan,” demikian pernyataan resmi kementerian tersebut.

Apabila terbukti bersalah, Sresan Pharma dan para pejabatnya terancam hukuman penjara seumur hidup dan denda besar atas tuduhan pembunuhan tidak berencana, pemalsuan obat, serta pelanggaran Undang-Undang Obat dan Kosmetika India. (*/rnc)