Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
New York, RakyatNTT.ID — Pendiri startup kecerdasan buatan (AI) Hugging Face, Thomas Wolf, menilai bahwa model AI saat ini yang dikembangkan oleh perusahaan besar seperti OpenAI dan Anthropic belum mampu menciptakan terobosan ilmiah besar.
Pernyataan ini cukup mengejutkan karena bertolak belakang dengan optimisme sejumlah tokoh besar di dunia AI, termasuk Sam Altman (CEO OpenAI) dan Dario Amodei (CEO Anthropic).
AI Belum Bisa Selevel Ilmuwan Penemu Nobel
Menurut Wolf, yang dimaksud dengan “terobosan ilmiah besar” adalah penemuan dan ide orisinal yang berdampak besar bagi sains, seperti teori heliosentris yang dicetuskan oleh Nicolaus Copernicus.
“Ilmuwan tidak mencoba memprediksi kata berikutnya yang paling mungkin. Ia mencoba menemukan hal baru yang tampaknya tidak mungkin tapi ternyata benar,” ujar Wolf dikutip dari CNBC.
Wolf berpendapat bahwa model AI seperti ChatGPT hanya mampu memprediksi kata berikutnya dalam kalimat, bukan menciptakan ide baru yang bertentangan dengan arus umum pemikiran ilmiah.
Selain itu, Wolf menyoroti bahwa AI cenderung ‘menyenangkan pengguna’, dengan menjawab pertanyaan seolah selalu menarik dan cerdas — padahal belum tentu benar secara ilmiah.
Kritik terhadap Chatbot dan Pola Prediktif AI
Wolf menilai kelemahan utama chatbot modern terletak pada arsitekturnya yang berbasis prediksi token.
Model seperti ChatGPT, menurutnya, bukan dirancang untuk berpikir kritis atau menentang konsensus, tetapi untuk menyesuaikan dengan konteks dan gaya pengguna.
Hal ini membuat model AI lebih cocok sebagai alat bantu atau asisten riset, bukan sebagai penggagas ide revolusioner.
“AI mungkin akan digunakan sebagai pendamping ilmuwan dalam menghasilkan ide-ide baru, tapi belum bisa menggantikan peran ilmuwan sejati,” tegas Wolf.
Perbandingan dengan Pendapat Tokoh Lain
Komentar Wolf ini berbeda dengan pendapat Dario Amodei, CEO Anthropic, yang sebelumnya mengatakan bahwa AI dapat mempercepat kemajuan biologi dan kedokteran hingga 10 kali lipat.
Menurut Amodei, teknologi AI dapat memampatkan kemajuan yang seharusnya dicapai dalam 50–100 tahun menjadi hanya 5–10 tahun berkat kemampuan analisis data kompleks.
Wolf mengakui bahwa AI memang membantu mempercepat riset, seperti yang dilakukan oleh AlphaFold dari Google DeepMind, yang mampu menganalisis struktur protein dan membantu ilmuwan menemukan obat-obatan baru.
Namun, ia menegaskan bahwa itu belum dapat disebut “terobosan ilmiah sejati” karena inovasi masih berasal dari manusia, bukan dari model AI itu sendiri.
AI Masih di Tahap Pendamping, Bukan Pengganti
Thomas Wolf menilai bahwa untuk saat ini, AI hanya berperan sebagai co-pilot ilmuwan, bukan penggagas teori baru.
Menurutnya, AI ideal yang bisa menciptakan penemuan orisinal harus memiliki kemampuan berpikir kontradiktif dan intuitif, dua karakter yang sejauh ini belum bisa dimodelkan secara algoritmik.
“Model AI tidak memiliki rasa penasaran atau dorongan untuk membuktikan sesuatu yang berbeda. Itulah yang membuat ilmuwan sejati unik,” ujarnya.
Dengan demikian, Wolf percaya bahwa AI masa kini lebih cocok untuk mempercepat eksperimen, bukan menggantikan proses berpikir manusia yang menghasilkan penemuan revolusioner.
Potensi Kolaborasi Manusia dan AI di Dunia Sains
Meski bersikap skeptis, Wolf tetap optimistis terhadap masa depan AI jika digunakan dengan cara yang tepat.
Ia melihat potensi besar dari kolaborasi antara manusia dan AI, di mana AI menjadi alat analisis dan eksplorasi ide, sementara manusia tetap menjadi sumber intuisi dan kreativitas ilmiah. (*/rnc)
