“Kami tidak hanya menyiapkan sisi akademis, tapi juga mental dan kepercayaan diri. Bahasa Indonesia yang santun dan efektif menjadi aspek penting dalam penilaian Bawaslu,” tambah Norani.

Sementara itu, Karin Sarceyani Bistolen menyoroti pentingnya pengendalian diri dalam retorika.

“Saya belajar menyesuaikan intonasi dan emosi dalam berdebat. Sekarang kami juga fokus menganalisis video debat tahun sebelumnya untuk memperbaiki teknik,” ujarnya.

Harapan Besar untuk NTT

Keberhasilan ini menjadi momentum penting bagi NTT untuk menunjukkan kualitas akademik dan kemampuan hukum di tingkat nasional.
Norani menutup dengan pesan penuh semangat:

“Berikan yang terbaik, tetap percaya diri, dan jangan takut. Dengan doa dan kerja keras, saya yakin FH Undana bisa bersinar di Jakarta.” (*/rnc)