Dua penyandang disabilitas terlihat mendapat bantuan petugas. Beberapa ibu hamil dipapah keluar rumah, sementara korban luka ringan ditangani di tenda medis darurat yang telah disiapkan.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Rote Ndao, Janwes N.H. Nauk, S.STP, kegiatan seperti ini menjadi cara terbaik untuk memastikan bahwa rencana di atas kertas benar-benar dapat diterapkan di lapangan.

“Rencana kontinjensi ini hasil kerja bersama banyak pihak, tapi yang paling penting adalah bagaimana warga memahaminya. Gladi lapangan seperti ini membantu kita mengukur apa yang sudah siap dan apa yang masih perlu diperbaiki,” ujarnya.

Lurah Namodale, Agustinus Ndolu, SE, menjelaskan alasan dipilihnya RT 07 sampai RT 10 sebagai lokasi simulasi karena wilayah ini berada di dekat hulu sungai dan pesisir pantai — kawasan yang hampir setiap tahun menjadi langganan banjir maupun banjir rob.

Kelurahan Namodale memiliki 13 RT, dan sekitar separuh penduduknya tinggal di area yang menjadi lokasi simulasi. Kampung nelayan Tou Ndao ini juga dikenal dengan kerajinan tenun ikat yang dikerjakan para perempuan, sementara kaum laki-laki kebanyakan bekerja sebagai nelayan.

Namun, kampung yang dipisahkan dari kota tua Ba’a oleh sebuah sungai ini hampir selalu diterpa banjir.