Fiskal diharapkan fokus pada subsidi perumahan dan dukungan terhadap sektor padat karya, sementara moneter perlu menjaga stabilitas suku bunga agar pembiayaan KPR tetap terjangkau.

“Ada downside risk jika penyaluran fiskal terhambat. Hal itu bisa mengganggu pemulihan daya beli masyarakat secara luas,” tutup Aqil.

Arah Sektor Properti di Akhir 2025

Dengan kombinasi stimulus fiskal, suku bunga rendah, dan kebijakan perumahan inklusif, pasar properti berpotensi menutup tahun 2025 dengan tren stabil.

Namun, keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada pemulihan daya beli dan peningkatan kualitas pekerjaan masyarakat.

Jika kedua faktor itu dapat dikembalikan ke jalur positif, maka sektor properti Indonesia bisa kembali menjadi penggerak ekonomi nasional di tengah perlambatan global. (*/rnc)