Kupang, RakyatNTT.ID Anggota Majelis Permusyarawatan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menggandeng Rumah Pintar AYHO melaksanakan Sosialisasi Empat Pilar di Kupang, Minggu (7/9/2025) bertempat di Hotel Maya.

Jacobus Jermias yang biasa disapa Jimba menyambut baik kegiatan tersebut.
“Saya berterima kasih pada Anggota MPR RI, Ibu Hilda Manafe yang mau berkolaborasi bersama kami untuk menyukseskan kegiatan sosialisasi empat pilar ini. Semoga memberi manfaat yang baik untuk menjaga dan melaksanakan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika,” jelasnya.

Tampil narasumber dalam kegiatan tersebut, Dr. Ian Haba Ora mewakili unsur akademisi dan Rado Tadjo Udju dari unsur praktisi.

Iklan

Anggota DPD RI Hilda Manafe pada kesempatan tersebut memaparkan penyebab masalah pluralisme sangat erat dengan perbedaan intepretasi dan klaim kebenaran, penggunaan agama untuk alat politik.

“Setiap kelompok agama cenderung anggap ajarannya paling benar, ini bisa timbulkan konflik. Agama juga digunakan kelompok tertentu untuk mencapai kepentingan politik yang memecah belah masyarakat,” ungkap Hilda yang juga Ketua Dekranasda Kota Kupang 2017-2022.

Lanjut Hilda, masalah pluralisme terjadi karena kesenjangan sosial ekonomi dan pengaruh disinformasi media sosial.

“Ketidakadilan dalam distribusi sumber daya dan kesempatan dapat memicu ketidakpuasan dan konflik yang tidak harus terkait dengan agama. Penyebaran informasi yang cepat juga dan tidak akurat di media sosial jadi fakta memperkeruh suasana dan ciptakan permusuhan atar kelompok,” tutup Hilda.

Rado Tadjo Udju dalam kesempatan itu menambahkan faktor geografis dan suku bangsa juga turut serta memengaruhi persoalan pluralisme.

“Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau menjadi faktor terbentuknya keragaman suku bangsa, yang jika tidak dikelola dengan baik bisa timbulkan potensi konflik,” jelas Rado yang juga pelatih karate tingkat nasional ini.

Ian Haba Ora yang juga direktur Rumah Pintar AYHO menambahkan pemikiran yang subjektif dan negatif terhadap agama lain juga harus dianggap sebagai penyebab dari intoleransi beragama.

“Kurangnya sikap toleransi menyebabkan terjadinya peminggiran kelompok tertentu dan segregasi sosial berdasarkan etnis dan agama,” tutup Ian yang juga akademisi ini.

Kegiatan ini berlangsung secara tatacara protokoler MPR RI yang dimoderatori oleh Yoan Nenometa salah satu tokoh pemuda di Kota Kupang. Peserta yang hadir mencapai ratusan orang dari dari berbagai kelompok organisasi. (rnc)