Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Ini bukan hanya soal ketahanan pangan, tapi juga mengajarkan anak-anak cinta lingkungan, pembelajaran kontekstual, dan memanfaatkan pertanian sebagai bagian ekonomi kreatif desa,” ujarnya.
Wakil Ketua DPRD Yohanes Siga menambahkan, integrasi literasi dengan pertanian memberi manfaat ganda: pengetahuan yang mengasah kecerdasan dan keterampilan yang meningkatkan kesejahteraan.
Ia mengungkapkan kebutuhan 4.000 buah pepaya per hari untuk 20 dapur MBG yang melayani lebih dari 50.000 anak. “Satu hektar pepaya bisa memberi penerimaan hingga Rp1 miliar,” sebutnya.
Kepala Desa Langedhawe, Siprianus Mesi, menyatakan komitmen melanjutkan program di setiap lahan pertanian dan pekarangan warga, sekaligus meminta dukungan pemerintah untuk infrastruktur jalan, alsintan, air bersih, dan jaringan komunikasi.
Dengan Langedhawe sebagai desa percontohan, Bupati berharap gerakan penanaman pepaya ini menyebar ke seluruh desa di Nagekeo, membuka peluang ekonomi, memperkuat gotong royong, dan menjadi langkah nyata menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan. (rnc15)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan