Kupang, RakyatNTT.ID Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur, Drs. Refafi Gah, S.Pd, S.H., M.Pd, angkat bicara mengenai insiden keracunan siswa-siswi di Kota Kupang dan Sumba yang diduga akibat konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah-sekolah oleh vendor-vendor terkait.

“Program Makanan Bergizi Gratis itu sebenarnya sangat bagus. Ini agar anak-anak kita bisa bergizi baik,” ujar Ketua DPD Partai Hanura NTT, Senin 28 Juli di Kupang.

Namun, Refafi menyoroti lemahnya pelaksanaan program ini di lapangan. Menurutnya, tidak ada evaluasi menyeluruh sebelum eksekusi program. Ia menekankan perbedaan kesiapan antara daerah dan pusat.

“Belum ada evaluasi yang baik, tapi sudah injak gas dan langsung eksekusi. Jangan samakan daerah dengan Jakarta. Kesiapannya beda,” tegas Refafi.

Keracunan Siswa jadi Bukti Kelemahan Pengawasan

Refafi mengungkapkan bahwa kasus keracunan siswa ini adalah bukti nyata dari lemahnya pengawasan.

“Sekarang anak-anak jadi korban. Padahal ada Balai POM dan Badan Gizi Nasional yang bertugas mengawasi dapur-dapur penyedia makanan ini,” katanya.

Ia menilai kedua lembaga tersebut seharusnya melakukan koordinasi intensif di tingkat nasional dan daerah. “Tidak bisa beralasan anggaran tidak ada, karena program ini sudah resmi berjalan,” tambahnya.

Usulan Solusi: Ubah Skema Bantuan

Lebih lanjut, politisi asal Pulau Sumba ini mengusulkan agar skema program MBG diganti menjadi subsidi langsung ke orang tua siswa. Menurutnya, cara ini lebih efektif dan menghindari risiko yang dapat membahayakan anak-anak. (rnc)