Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
So’E, RakyatNTT.ID — Ketua Fraksi Partai Perindo DPRD Timor Tengah Selatan, Marthen Natonis, menyalurkan bantuan benang tenun ikat untuk 80 perajin perempuan di Kecamatan Kie, Kabupaten TTS, Nusa Tenggara Timur.
Bantuan ini merupakan wujud komitmen dalam melestarikan budaya lokal sekaligus memperkuat ekonomi kreatif berbasis perempuan desa.
Dana Pokok Pikiran (Pokir) milik Marthen dialokasikan untuk mendukung empat kelompok tenun ikat di Dapil 4. Masing-masing kelompok menerima 45 bantal benang, yang disalurkan langsung kepada anggota kelompok.
Dorong Produktivitas dan Pelestarian Budaya
“Bantuan benang ini diharapkan mendukung keberlangsungan usaha tenun ikat, meningkatkan produktivitas, dan melestarikan warisan budaya suku Dawan,” jelas Marthen.
Sebagai Ketua Komisi I DPRD TTS sekaligus Ketua DPD Partai Perindo TTS, Marthen menekankan bahwa tenun ikat bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga sarana pemberdayaan perempuan dan identitas budaya masyarakat Timor.
Nilai Filosofis dan Potensi Ekonomi
Marthen menjelaskan bahwa setiap motif tenun ikat Dawan memiliki filosofi mendalam dan nilai spiritual tinggi. Selain digunakan dalam ritual adat, tenun ikat kini berkembang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang potensial untuk pasar lokal dan nasional.
“Tenun ikat harus dilihat sebagai aset budaya sekaligus sumber ekonomi kreatif yang perlu kita dukung secara berkelanjutan,” tegasnya.
Perindo Fokus pada Perempuan, Pemuda, Pekerja, Disabilitas, dan UMKM
Langkah pemberdayaan ini sejalan dengan program strategis Partai Perindo di bawah kepemimpinan Angela Tanoesoedibjo, yang memprioritaskan kelompok 5P (Perempuan, Pemuda, Pekerja, Penyandang Disabilitas, dan UMKM) sebagai motor pertumbuhan inklusif dalam lima tahun ke depan.
“Kami berharap kelompok tenun ini bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh dan mampu menembus pasar lebih luas,” tambah Marthen.
Dorong Kolaborasi dan Akses Pasar
Selain bantuan bahan baku, Marthen juga mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mendampingi kelompok tenun melalui pelatihan, pendampingan, dan pemasaran digital maupun fisik seperti pameran.
“Kita perlu memberikan dukungan berkelanjutan agar tenun ikat tetap eksis dan berkembang sebagai kebanggaan daerah,” tandasnya. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan