Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dalam sambutannya, Dr. Siprianus Suban Garak, M.Sc, Wakil Rektor III, mengapresiasi semangat mahasiswa:
“Meski masa libur, kalian tetap hadir. Ini tanda bahwa kalian ingin berkembang,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kegiatan ini adalah gerakan awal untuk membangun kampus yang bebas dari paham destruktif.
Nalar Kritis dan Kemanusiaan: Senjata Melawan Paham Ekstrem
Prof. Dr. Drs. Petrus Ly, M.Si. sebagai pembicara pertama, menekankan pentingnya logika dan nalar kritis:
“Mahasiswa akan jadi korban radikalisme jika tidak menggunakan nalar.”
Ia mengajak peserta mengenali benih intoleransi yang sering tak disadari, namun bisa berbahaya dalam jangka panjang.
Selanjutnya, Pdt. Jeky Latuperissa mengangkat pentingnya nilai kemanusiaan dan jaringan lintas iman, suku, dan budaya:
“Mahasiswa harus jadi pelopor harmoni, bukan sekadar pengamat perbedaan.”
Ia juga membagikan pengalaman langsung menghadapi radikalisme di lapangan.
Momentum Penguatan Ideologi dan Moral di Kalangan Mahasiswa
Kuliah umum ini ditutup dengan sesi interaktif dan pembagian doorprize. Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi menjadi pemicu tindakan nyata untuk menciptakan generasi mahasiswa yang berpikir kritis, berjiwa toleran, dan siap menghadapi tantangan global.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan