3. Kepemimpinan Pembelajaran: Dari Kepala Sekolah sebagai Manajer ke Agen Perubahan
Leithwood et al. (2021) menekankan bahwa keberhasilan sekolah sangat ditentukan oleh kepemimpinan yang fokus pada pembelajaran. Kepala sekolah harus dibina dan dinilai bukan karena kelengkapan laporan, tetapi karena kemampuannya menggerakkan guru, menciptakan budaya reflektif, dan membangun visi mutu yang hidup di ruang kelas.

4. Akreditasi Partisipatif: Libatkan Komunitas sebagai Mitra Penjaminan Mutu
Proses akreditasi harus terbuka terhadap evaluasi dari seluruh pemangku kepentingan siswa, orang tua, alumni, mitra dunia kerja, dan masyarakat lokal. Suara mereka penting untuk menilai sejauh mana pendidikan relevan, responsif, dan berdampak dalam kehidupan nyata. Ini sekaligus memperkuat akuntabilitas sosial lembaga pendidikan.

5. Kontekstualisasi Akreditasi: Fleksibilitas dalam Bingkai Nasional
Satu model akreditasi tidak bisa diberlakukan secara kaku di seluruh wilayah. Harus ada ruang fleksibilitas agar daerah dapat menyesuaikan indikator dengan karakteristik lokal, tantangan geografis, dan sosial budaya. Schleicher (2020) menyebut pendekatan ini sebagai context-sensitive evaluation, yang justru meningkatkan relevansi dan efektivitas sistem penjaminan mutu.