Kupang, RakyatNTT.ID – Kelangkaan semen di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kota Kupang dan wilayah sekitarnya, semakin mengganggu aktivitas pembangunan. Persoalan ini tidak hanya membuat sejumlah proyek terhambat, tetapi juga memicu lonjakan harga yang semakin membebani masyarakat.

Penelusuran RakyatNTT.ID dalam dua pekan terakhir menemukan harga semen di sejumlah toko bangunan terus mengalami kenaikan. Semen merek Conch yang sebelumnya dijual Rp56.000 per sak ukuran 40 kilogram, kini naik menjadi Rp60.000 hingga Rp65.000.

Kenaikan lebih tajam terjadi pada semen kelas 1 merek Bosowa. Jika sebelumnya masih dijual dengan harga Rp63.000 hingga Rp65.000 per sak, kini harganya mencapai Rp89.000 per sak.

Lonjakan harga tersebut membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pembangunan rumah maupun pekerjaan konstruksi lainnya.

Pembelian Semen Dibatasi, Warga Keluhkan Kebijakan Toko

Di tengah kelangkaan dan kenaikan harga, masyarakat juga dihadapkan pada kebijakan pembatasan pembelian yang diterapkan sejumlah pengusaha toko bangunan di Kota Kupang.

Beberapa toko membatasi pembelian hanya dua hingga lima sak semen untuk setiap orang dalam satu kali transaksi.

Kebijakan tersebut memicu polemik di tengah masyarakat. Bahkan, muncul keributan antara warga yang hendak membeli semen dengan karyawan toko akibat pembatasan jumlah pembelian.

Tidak hanya pembelian langsung, sejumlah toko juga menerapkan ketentuan khusus untuk pemesanan semen melalui layanan pengiriman.

Ada toko yang membatasi pengiriman maksimal 10 sak semen. Sementara toko lainnya masih melayani pembelian hingga 30 sak, tetapi dengan syarat konsumen harus membeli bahan bangunan tambahan senilai Rp1 juta.

Situasi ini semakin menyulitkan masyarakat yang membutuhkan semen dalam jumlah besar untuk menyelesaikan pekerjaan pembangunan.

Pemkot Kupang Turun Tangan, Hasil Operasi Masih Ditunggu

Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dikabarkan telah melakukan operasi ke sejumlah distributor dan toko bangunan untuk menelusuri penyebab kelangkaan semen.

Namun, hingga kini hasil operasi tersebut belum disampaikan secara jelas kepada publik.

Asisten II Sekretariat Daerah Kota Kupang, Ignasius Repelita Lega, mengatakan pemerintah telah melakukan pemeriksaan ke distributor dan sejumlah toko bangunan.

“Dari Disperindag dan Pol PP sudah melakukan operasi dan pergi ke distributor dan toko-toko, namun kita masih menunggu hasil,” ungkap Ignasius.

Ia memastikan pemerintah akan terus melakukan koordinasi dan operasi dalam kurun waktu 24 jam ke depan untuk memeriksa ketersediaan pasokan semen.

Pemeriksaan akan menyasar rantai distribusi, mulai dari distributor, gudang penyimpanan hingga toko-toko bangunan.

Langkah tersebut diharapkan dapat mengungkap persoalan distribusi sekaligus memastikan pasokan semen kembali normal di pasaran.

Proyek Pemerintah Diduga Ikut Memicu Kelangkaan

Di tengah situasi tersebut, muncul dugaan bahwa meningkatnya kebutuhan semen untuk proyek-proyek pemerintah pada tiga bulan terakhir 2026 menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan stok di pasaran.

Setelah pembahasan Perubahan APBD, sejumlah kegiatan pembangunan pemerintah mulai ditenderkan kepada pihak ketiga pada akhir Oktober 2026.

Kondisi ini diduga memicu peningkatan permintaan semen dalam jumlah besar dari para kontraktor. Mereka dituntut mempercepat pekerjaan agar seluruh proyek dapat diselesaikan sesuai masa kontrak pada tahun anggaran 2026.

Akibatnya, pesanan semen dalam jumlah besar diduga lebih banyak terserap melalui jalur distributor untuk memenuhi kebutuhan proyek konstruksi.

Selain peningkatan permintaan, muncul pula dugaan adanya praktik penimbunan semen untuk kepentingan usaha tertentu.

Dugaan tersebut menguat setelah ditemukan sejumlah toko bangunan yang berada dalam satu manajemen perusahaan dengan lini usaha lain, termasuk jasa konstruksi dan pengecoran.

Meski demikian, dugaan penimbunan maupun keterkaitannya dengan kelangkaan semen masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan pemerintah dan penelusuran rantai distribusi.

Masyarakat Menunggu Kepastian Pasokan dan Harga

Kelangkaan semen di Kota Kupang kini bukan sekadar persoalan perdagangan, melainkan telah berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Kenaikan harga, pembatasan pembelian, hingga persyaratan tambahan dari toko bangunan membuat konsumen semakin sulit memperoleh bahan bangunan tersebut.

Pemerintah dituntut tidak hanya melakukan operasi pasar, tetapi juga membuka secara transparan hasil pemeriksaan terhadap distributor dan toko bangunan.

Kepastian mengenai jumlah stok, jalur distribusi, volume pasokan untuk proyek pemerintah, serta kemungkinan praktik penahanan barang menjadi hal penting untuk menjawab keresahan masyarakat.

Jika persoalan ini tidak segera diatasi, kelangkaan semen berpotensi terus menekan biaya pembangunan rumah rakyat dan menghambat aktivitas konstruksi di NTT. (rnc04)