Ia mengibaratkan paduan suara sebagai gambaran kehidupan masyarakat yang terdiri atas beragam karakter dan latar belakang. Suara tenor, bas, sopran, dan alto memiliki ciri khas masing-masing, tetapi dapat menghasilkan harmoni ketika setiap bagian menjalankan perannya dan saling melengkapi.

“Paduan suara mengajarkan satu hal, bahwa persatuan itu tidak harus menjadi sama. Persatuan bukan menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama meskipun berbeda,” jelasnya.

Menurutnya, filosofi tersebut sangat relevan dengan kehidupan Kota Kupang yang dihuni masyarakat dari beragam suku, agama, dan budaya.

“Keberagaman tidak pernah menjadi penghalang. Keberagaman selalu menjadi kekuatan, tidak menjadi jarak pemisah, tetapi menjadi jembatan. Itulah indahnya keberagaman yang ada di Kota Kupang,” tegas Christian.

Ia mengajak para peserta untuk membawa semangat persaudaraan dari panggung paduan suara ke kehidupan sehari-hari. Menurutnya, persatuan membutuhkan kesediaan untuk saling mendengarkan, memberikan kesempatan, dan menghargai peran setiap orang.

“Di dalam persatuan, walaupun berbeda, kita pasti bisa menang. Dalam bahasa Latin dikatakan, Ubi concordia, ibi Victoria, di mana ada persatuan, di situ ada kemenangan,” pungkasnya.

GMIT Sebut Simfoni Persaudaraan sebagai Momentum Bersejarah

Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Yohanis Ena Blegur, S.Th., menyebut Simfoni Persaudaraan sebagai momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya pesta paduan suara diselenggarakan dalam lingkup pelayanan GMIT secara menyeluruh.