Para mahasiswa akan melakukan survei di dua hingga tiga desa pada masing-masing kabupaten terdampak. Mereka akan mengidentifikasi pola kerusakan, faktor penyebab kerentanan bangunan, hingga karakteristik konstruksi yang dapat memengaruhi tingkat kerusakan saat gempa.

Hasil survei tersebut nantinya menjadi dasar penyusunan panduan teknis dan prototipe bangunan yang disesuaikan dengan kondisi lokal serta kebutuhan masyarakat.

Selain mengamati bangunan yang mengalami kerusakan, mahasiswa juga akan mempelajari rumah-rumah tradisional yang mampu bertahan dari guncangan gempa.

Pengetahuan lokal tersebut akan dikaji untuk mengetahui prinsip konstruksi yang dapat diadaptasi ke dalam desain rumah aman bencana dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini.

SIAP SIAGA Dorong Prinsip Build Back Better and Safer

Area Manager SIAP SIAGA NTT, Silvia Fanggidae, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup dilakukan dengan membangun kembali bangunan yang rusak tanpa memperbaiki faktor penyebab kerentanannya.

“Jika rumah rubuh karena tidak tahan gempa lalu dibangun ulang dengan cara yang sama tidak tahan gempa, maka saat gempa berikutnya datang, rumah akan rubuh kembali,” kata Silvia.