Kupang, RakyatNTT.ID – Kristoforus Haki resmi dipercaya memimpin Dewan Pengurus Cabang Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPC HKTI) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) periode 2026–2031. Usai dilantik, Kristo Haki menegaskan komitmennya untuk menjadikan HKTI sebagai wadah yang menghadirkan solusi nyata bagi petani, bukan sekadar membawa slogan organisasi.

Kristo Haki dilantik bersama para Ketua DPC HKTI se-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam agenda pelantikan yang berlangsung di Hotel Harper Kupang, Selasa (15/9/2026).

Politisi Partai Gerindra tersebut bukanlah sosok baru dalam organisasi HKTI. Ia telah terlibat dalam organisasi ini sejak terpilih sebagai anggota DPRD TTU periode 2014–2019. Pada masa itu, Prabowo Subianto masih menjabat sebagai Ketua Umum HKTI, yang kemudian dilanjutkan oleh Fadli Zon pada periode 2015–2025.

“Posisi ini bukan sekadar gagah-gagahan. Ada tanggung jawab besar di dalamnya. Prinsipnya HKTI TTU bukan hadir membawa slogan, tapi kami hadir di tengah para petani untuk berikan solusi nyata,” ujar Kristo Haki saat ditemui di sela-sela kunjungan Ketua Umum HKTI Sudaryono di Baumata, Rabu (16/9/2026).

Dampingi Kelompok Tani dan Pasok Hasil Kebun ke Dapur MBG

Kristo Haki menjelaskan, HKTI TTU saat ini telah melakukan pendampingan terhadap sejumlah kelompok tani di beberapa wilayah Kabupaten TTU.

Pendampingan tersebut mencakup satu kelompok tani di Desa Benus, Kecamatan Naibenu; satu kelompok tani di Desa Sekon, Kecamatan Insana; dua kelompok tani di Kelurahan Maubesi, Kecamatan Insana Tengah; serta satu kelompok tani di Kecamatan Noemuti.

Kelompok-kelompok tani binaan HKTI tersebut membudidayakan berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Sebagian hasil pertanian bahkan telah disalurkan langsung ke dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

“Sebagian besar hasil dari kebun mereka, langsung masuk dapur MBG. Bahkan kami sudah menyiapkan mobil khusus untuk menjemput hasil dari kebun petani dan langsung masuk ke dapur,” jelasnya.

Menurut Kristo, langkah tersebut dilakukan untuk membantu petani mendapatkan akses pasar yang lebih mudah, sekaligus mendukung kebutuhan bahan pangan bagi dapur MBG di Kabupaten TTU.

Tanam 27 Ribu Bibit Semangka untuk Penuhi Kebutuhan MBG

Salah satu komoditas yang kini menjadi perhatian HKTI TTU adalah buah semangka. Kristo Haki mengatakan, kelompok tani binaan sedang gencar mengembangkan budidaya semangka karena komoditas tersebut belum banyak dibudidayakan oleh petani di wilayah TTU, sementara permintaan pasarnya cukup tinggi.

“Dapur MBG di TTU banyak mendatangkan semangka dari Kupang. Bahkan kalau Kupang tidak cukup, semangka didatangkan dari Jawa. Jadi kami coba dampingi petani untuk buka lahan dan menyiapkan bibit. Total ada 27 ribu anakan semangka yang sudah ditanam di semua kebun binaan,” ungkapnya.

Budidaya semangka ini diarahkan untuk memanfaatkan peluang pasar dari dapur-dapur MBG. Dengan adanya pendampingan mulai dari persiapan lahan hingga penyediaan bibit, HKTI berharap petani dapat meningkatkan produksi dan mengambil bagian dalam rantai pasok kebutuhan pangan program tersebut.

Keterbatasan Air dan Teknologi Jadi Tantangan Petani

Di sisi lain, Kristo Haki mengakui bahwa ketersediaan air masih menjadi salah satu persoalan mendasar yang dihadapi petani di Kabupaten TTU. Selain itu, keterbatasan teknologi pertanian juga menjadi kendala dalam meningkatkan efisiensi pekerjaan petani.

“Yang kami lakukan sekarang, itu di tempat di mana ketersediaan air cukup untuk bisa membantu petani dari tanam sampai panen,” katanya.

Ia menegaskan, HKTI akan berupaya membangun komunikasi secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat, untuk mencari solusi atas berbagai kendala yang dihadapi petani.

“Lewat organisasi ini, secara berjenjang dari provinsi hingga ke pusat, kita akan membangun komunikasi sehingga kesulitan yang dihadapi petani bisa sedikit teratasi,” sambung Sekretaris DPC Gerindra DPRD TTU itu.

Dorong Dinas Pertanian TTU Tangkap Peluang Program MBG

Sebagai Ketua Fraksi Gerindra sekaligus bagian dari Badan Anggaran (Banggar) DPRD TTU, Kristo Haki mengaku terus mendorong Dinas Pertanian setempat agar mampu menangkap peluang dari program MBG melalui program yang tepat sasaran dan pendampingan yang serius.

Ia menyoroti pentingnya evaluasi terhadap pelaksanaan program pertanian agar pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada aspek administratif, tetapi menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh petani.

“Saya melihat selama ini pendampingan hanya formalitas untuk memberikan laporan bahwa program yang mereka jalankan itu terserap, tetapi output hampir tidak ada,” kritiknya.

Selain pendampingan, Kristo juga berharap Pemerintah Kabupaten TTU melalui Dinas Pertanian dapat memberikan dukungan anggaran yang berpihak kepada petani, terutama dalam penyediaan sarana dan teknologi pertanian.

“Kami akan bergandengan tangan dengan Pemda, supaya para petani bisa mendapat peluang dengan cara yang lebih praktis. Ketersediaan alat teknologi pertanian, tentu akan melancarkan pekerjaan mereka,” ungkapnya.

Ajak Generasi Muda Berani Bertani

Menutup wawancara, Kristo Haki mengajak masyarakat TTU, khususnya generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap dunia pertanian, untuk berani terjun ke sektor tersebut.

Ia menilai kehadiran dapur-dapur MBG dapat membuka peluang pemasaran bagi hasil pertanian lokal, termasuk sayur dan buah-buahan yang diproduksi kelompok tani.

“Harga sayur dan buah yang masuk ke dapur MBG itu sangat bagus untuk petani. Misalnya harga sayur per kilo 15 ribu. Peluang ini harus kita tangkap,” tuturnya.

Kristo juga mengusulkan agar kelompok tani yang telah didampingi HKTI dapat dimediasi melalui wadah koperasi. Menurutnya, koperasi bisa membantu petani mengelola pasokan hasil kebun dan memperlancar distribusi langsung ke dapur MBG tanpa harus bergantung pada pemasok perantara.

“Kalau kelompok yang kita dampingi ini dimediasi dalam sebuah wadah koperasi, tentu jauh lebih baik. Mereka tidak sulit ketika pasok hasil kebun ke dapur dan tidak melalui supplier,” pungkasnya. (rnc)