Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Majelis Harian Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pembangunan gedung gereja di kawasan Kampung Toleransi, Naibonat, Kabupaten Kupang.
Dukungan tersebut disampaikan Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, saat menerima audiensi para pendeta dan Majelis Klasis Kupang Timur di GMIT Center Kupang, Rabu (10/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, GMIT menekankan agar pembangunan sarana ibadah tidak semata-mata berorientasi pada kemegahan fisik bangunan. Lebih dari itu, gedung gereja diharapkan memiliki fungsi pelayanan yang nyata sekaligus menjadi ruang perjumpaan yang terbuka dan inklusif bagi masyarakat.
Pdt. Semuel didampingi Sekretaris Sinode GMIT Pdt. Lay Abdi K. Wenyi dan Wakil Sekretaris Sinode GMIT Pdt. Zimrat M.S. Karmany.
Audiensi membahas arah pengembangan sarana ibadah di wilayah Kupang Timur yang dirancang sebagai bagian dari kawasan wisata rohani dengan semangat keberagaman dan toleransi.
GMIT Dorong Gereja jadi Ruang Perjumpaan
Pdt. Semuel mengatakan wilayah Kupang Timur memiliki cakupan geografis yang luas dan posisi strategis. Karena itu, keberadaan fasilitas keagamaan di kawasan tersebut diharapkan mampu menjalankan fungsi sosial yang lebih luas.
Menurutnya, fasilitas yang dibangun di kawasan Kampung Toleransi harus dapat menjadi tempat perjumpaan berbagai kelompok masyarakat, sekaligus mendukung kegiatan pelayanan dan pembinaan spiritual.
“Keberadaan fasilitas di wilayah ini ditujukan untuk memaksimalkan fungsi sosial sebagai ruang perjumpaan bagi seluruh masyarakat, meskipun terdapat perbedaan sistem pengelolaan yang membuatnya tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan gereja atau pondok ibadah biasa,” ujar Pdt. Semuel.
Ia mengusulkan agar gedung tersebut dirancang sebagai rumah spiritualitas berbasis perjumpaan yang memiliki konsep fleksibel.
Dengan konsep tersebut, fasilitas dapat digunakan secara bergantian oleh Unit Pembantu Pelayanan (UPP), Badan Pembantu Pelayanan (BPP) Sinode, jemaat dari klasis lain maupun kelompok pelayanan lainnya.
Selain ibadah, tempat tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk kegiatan doa, retret, pembinaan rohani hingga diskusi dan interaksi sosial secara informal.
Lengkapi Rumah Ibadah di Kampung Toleransi
Ketua Majelis Klasis Kupang Timur, Pdt. Elmodan H. Naimasus, mengatakan pembangunan sarana ibadah Protestan merupakan langkah penting untuk melengkapi fasilitas peribadatan umat beragama lain yang telah tersedia di kawasan tersebut.
Menurutnya, rumah ibadah Islam, Katolik dan Hindu telah menjadi bagian dari kawasan Kampung Toleransi. Karena itu, kehadiran sarana ibadah Protestan diharapkan semakin memperkuat identitas kawasan sebagai ruang yang mencerminkan keberagaman.
“Pembangunan sarana ibadah Protestan sedang diupayakan untuk melengkapi rumah ibadah umat lain demi mewujudkan kawasan yang mencerminkan semangat Kampung Toleransi,” ungkap Pdt. Elmodan.
Ia juga meminta dukungan dari Majelis Sinode GMIT, klasis-klasis se-Kabupaten Kupang serta berbagai mitra eksternal agar rencana pembangunan tersebut dapat direalisasikan.
Diharapkan jadi Destinasi Wisata Rohani Inklusif
Ketua Majelis Jemaat Ekklesia Airkom, Pdt. Elisabeth Ratu, menegaskan bahwa keberadaan rumah ibadah Protestan di kawasan tersebut akan semakin mengokohkan Kampung Toleransi sebagai destinasi wisata rohani yang inklusif.
Menurutnya, konsep Kampung Toleransi bukan hanya menghadirkan bangunan rumah ibadah dari berbagai agama, tetapi juga menciptakan ruang bagi masyarakat dengan latar belakang kepercayaan berbeda untuk saling berinteraksi dan membangun persaudaraan.
Kawasan Kampung Toleransi di Kecamatan Kupang Timur sendiri digagas oleh Anselmus Giaprillianto Djogo, atau yang akrab disapa Jefry Djogo, seorang tokoh nasionalis setempat.
Kehadiran rumah ibadah Protestan di kawasan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat semangat kerukunan antarumat beragama di Nusa Tenggara Timur.
Lebih dari sekadar fasilitas peribadatan, pembangunan tersebut diharapkan menghadirkan ruang pelayanan, pembinaan spiritual, interaksi sosial dan dialog lintas iman.
Dengan demikian, Kampung Toleransi Naibonat dapat terus dikembangkan sebagai ruang bersama yang mencerminkan keberagaman masyarakat NTT sekaligus menjadi simbol kerukunan, keadilan pelayanan keagamaan dan persaudaraan di tengah perbedaan. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan