Kupang, RakyatNTT.ID – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali bertambah. Hingga Rabu (19/8/2026) malam, total korban meninggal dunia tercatat mencapai 73 orang.

Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, mengatakan angka tersebut merupakan hasil rekapitulasi sementara tim di lapangan.

“Berdasarkan rekapitulasi sementara, korban meninggal dunia berjumlah 73 orang,” kata Fathur Rahman, Rabu malam.

Selain korban meninggal, sebanyak 931 orang mengalami luka berat dan luka ringan. Para korban tersebar di tujuh kabupaten di Pulau Flores yang terdampak gempa.

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 27 orang. Di wilayah tersebut, tercatat 32 korban mengalami luka berat dan 104 orang lainnya mengalami luka ringan.

Sebagian besar korban berada di wilayah Reo, Manggarai.

Lansia Korban Gempa Dievakuasi dengan Helikopter

Dalam operasi SAR gabungan pada Rabu, tim Basarnas juga melakukan evakuasi medis terhadap seorang lansia berusia 77 tahun bernama Adelina Ndimas.

Adelina merupakan warga Manggarai Timur yang mengalami fraktur pada bagian kepala. Korban dievakuasi menggunakan helikopter Basarnas menuju RSUD Komodo di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

“Korban dievakuasi dari posko medis Damer, Desa Satar Padut, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur,” ujar Fathur.

Evakuasi melalui jalur udara dilakukan untuk mempercepat penanganan medis, mengingat kondisi korban membutuhkan pertolongan lebih lanjut.

BMKG Catat 3.002 Gempa Susulan

Di tengah proses pencarian, evakuasi, dan penanganan korban, aktivitas gempa susulan masih terjadi di sejumlah wilayah Flores.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengatakan hingga Rabu (19/8/2026) pukul 14.00 WITA, BMKG telah mencatat 3.002 aktivitas gempa bumi susulan setelah gempa utama magnitudo 7,7.

“Update tanggal 19 Agustus 2026 pukul 14.00, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 3.002 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo 1,1 sampai 6,2,” kata Nelly.

Dari ribuan aktivitas tersebut, sebanyak 86 gempa susulan dirasakan masyarakat. Sementara itu, terdapat 25 gempa susulan dengan magnitudo di atas 5.

Tingginya aktivitas seismik tersebut membuat masyarakat di wilayah terdampak masih harus meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi kerusakan bangunan yang sebelumnya telah terdampak gempa utama.

Gempa Susulan Masih Berpotensi Terjadi

Nelly menjelaskan, banyaknya gempa susulan merupakan bagian dari proses alamiah setelah terjadi gempa utama berkekuatan besar.

Gempa susulan terjadi karena kerak bumi melakukan penyesuaian setelah mengalami pelepasan energi dalam jumlah besar. Proses tersebut berlangsung hingga tercapai kondisi keseimbangan baru.

“Gempa susulan ini cukup banyak karena itu adalah bagian dari proses penyesuaian kerak bumi atau pelepasan energi sehingga mendapatkan keseimbangan yang baru setelah terjadinya gempa utama yang besar,” jelas Nelly.

BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan masih berpotensi berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Karena itu, masyarakat diminta tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan potensi bahaya.

Warga juga diimbau mengikuti informasi resmi BMKG dan mematuhi arahan pemerintah maupun petugas di lapangan.

Dengan jumlah korban meninggal dunia yang kini mencapai 73 orang, penanganan bencana gempa NTT masih terus dilakukan. Di sisi lain, ribuan gempa susulan menjadi tantangan tersendiri bagi proses evakuasi, pelayanan kesehatan, serta pemulihan masyarakat di sejumlah wilayah Flores. (*/rnc)