Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ruteng, RakyatNTT.ID – Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng mengambil langkah cepat setelah gempa bumi mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Demi memastikan keselamatan mahasiswa, universitas memutuskan menarik seluruh mahasiswa KKN Tematik 2026 dari lokasi penempatan masing-masing untuk kembali ke tempat yang lebih aman.
Keputusan tersebut diambil setelah universitas mencermati kondisi di lapangan dan dampak gempa di sejumlah wilayah Flores. Salah satu pertimbangannya adalah adanya mahasiswa UNIKA yang menjadi korban akibat reruntuhan rumah warga yang digunakan sebagai tempat menginap selama menjalankan KKN.
Rektor UNIKA Santu Paulus Ruteng menegaskan keselamatan mahasiswa menjadi prioritas utama universitas.
“Kami menarik mahasiswa dari lokasi KKN bukan berarti UNIKA menarik diri dari masyarakat. Kami menyelamatkan mahasiswa kami, tetapi kami tidak menarik kepedulian dan tanggung jawab kemanusiaan kami terhadap masyarakat yang sedang mengalami bencana,” tegas Rektor.
Mahasiswa KKN Ditarik, Kepedulian Tetap Berlanjut
Penarikan mahasiswa dilakukan untuk memastikan seluruh peserta KKN berada dalam kondisi aman dan terhindar dari risiko gempa susulan maupun bangunan yang mengalami kerusakan.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) bersama panitia KKN diminta memastikan seluruh mahasiswa terdata dan memperoleh tempat yang aman. Pendampingan juga disiapkan bagi mahasiswa yang mengalami luka, kehilangan anggota keluarga, kerusakan tempat tinggal, maupun dampak psikologis akibat bencana.
Meski seluruh mahasiswa ditarik dari lokasi KKN, UNIKA tetap membuka kesempatan bagi mahasiswa yang berada dalam kondisi aman dan secara sukarela ingin terlibat sebagai relawan kemanusiaan.
Mahasiswa yang menjadi relawan nantinya akan ditempatkan secara terkoordinasi dan tidak lagi menjalankan kegiatan tersebut sebagai bagian dari kewajiban KKN.
Mereka akan membantu masyarakat berdasarkan kompetensi, kebutuhan di lapangan, serta arahan pemerintah daerah dan lembaga penanggulangan bencana.
“Kami tidak ingin mahasiswa datang ke lokasi bencana tanpa koordinasi dan justru menambah risiko. Karena itu, kegiatan kerelawanan harus aman, terorganisasi, sesuai kompetensi, dan berada dalam koordinasi dengan pemerintah daerah,” ujar Rektor.
UNIKA Bentuk Posko Tanggap Darurat Gempa
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kemanusiaan, UNIKA Santu Paulus Ruteng juga membentuk Posko Tanggap Darurat Gempa UNIKA Santu Paulus Ruteng.
Posko tersebut menjadi pusat koordinasi universitas untuk melakukan pendataan mahasiswa terdampak, mengorganisasi relawan, memetakan kebutuhan masyarakat, serta mengoordinasikan bantuan dan pelayanan kemanusiaan.
UNIKA juga akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, serta berbagai lembaga terkait untuk mengetahui wilayah yang membutuhkan dukungan.
Relawan dari lingkungan UNIKA akan diarahkan untuk membantu sejumlah kebutuhan, seperti pendampingan anak dan pendidikan, promosi kesehatan, dukungan psikososial, pendataan masyarakat terdampak, distribusi bantuan, hingga pendampingan kelompok rentan.
Namun, mahasiswa tidak akan ditempatkan pada kegiatan yang memiliki risiko tinggi atau membutuhkan kompetensi khusus, seperti memasuki bangunan yang rusak maupun melakukan operasi pencarian dan penyelamatan.
KKN Tematik Tidak Dihentikan, tetapi Disesuaikan
Penarikan mahasiswa dari lokasi bencana tidak berarti UNIKA menghentikan tanggung jawab akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.
Setelah kondisi darurat memungkinkan, universitas akan melakukan evaluasi dan menyiapkan skema keberlanjutan KKN Tematik. Salah satu opsi yang disiapkan adalah pengembangan KKN Tanggap, Pemulihan, dan Ketangguhan Masyarakat Pascagempa Flores.
“Dalam situasi bencana, pendidikan tidak boleh kehilangan relevansinya. Mahasiswa belajar bukan hanya dari buku dan ruang kelas, tetapi juga dari bagaimana ilmu pengetahuan digunakan untuk membantu manusia. Namun, bantuan itu harus dilakukan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab,” jelas Rektor.
Universitas juga memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa yang menjadi korban maupun terdampak langsung gempa. Langkah tersebut dilakukan agar kondisi bencana tidak menimbulkan kerugian akademik bagi mahasiswa yang terdampak karena keadaan di luar kendali mereka.
UNIKA Tegaskan Komitmen Bersama Masyarakat
UNIKA Santu Paulus Ruteng memandang gempa Flores bukan hanya sebagai persoalan kemanusiaan, tetapi juga sebagai momentum bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan ilmu pengetahuan, solidaritas, dan pengabdian secara nyata.
“Kami ingin UNIKA hadir bukan hanya ketika keadaan normal. Justru dalam situasi sulit seperti sekarang, kampus harus menunjukkan bahwa ilmu, iman dan solidaritas dapat menjadi kekuatan untuk membantu masyarakat bangkit kembali,” pungkas Rektor.
Melalui kebijakan penarikan mahasiswa sekaligus pembentukan posko tanggap darurat, UNIKA berupaya menjaga keseimbangan antara keselamatan sivitas akademika dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat terdampak gempa.
UNIKA Santu Paulus juga mengajak seluruh sivitas akademika untuk tetap tenang, mengutamakan keselamatan, mengikuti informasi resmi pemerintah, serta memperkuat solidaritas bagi masyarakat Flores yang tengah menghadapi dampak bencana. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan