Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
ADA ungkapan yang sederhana, tetapi selalu memiliki daya untuk menggugah ingatan: Mai Fali E. Bagi orang Rote, ungkapan ini tidak sekadar menunjuk pada tindakan kembali ke suatu tempat. Di dalamnya ada kerinduan, ikatan keluarga, tanah kelahiran, identitas, dan panggilan untuk tidak melupakan dari mana seseorang berasal.
Saya sering membayangkan, bagaimana jika Mai Fali E tidak kita pahami hanya sebagai ajakan untuk pulang secara fisik?
Bagaimana jika ia kita baca sebagai sebuah panggilan moral: pulang untuk memberi kembali apa yang telah kita terima?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika anak-anak Rote semakin banyak yang menempuh pendidikan di luar daerah, bekerja di kota-kota besar, bahkan membangun karier di berbagai negara. Mereka pergi untuk belajar, mencari pengalaman, membangun kehidupan, dan mengejar masa depan.
Tidak ada yang salah dengan pergi.
Justru, anak-anak daerah harus berani pergi sejauh mungkin. Mereka harus melihat dunia, belajar dari berbagai tempat, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai kompetensi yang dibutuhkan zamannya.
Yang perlu kita pertanyakan adalah: setelah mereka pergi dan berhasil, apa yang kembali kepada tanah asalnya?
Di situlah Mai Fali E menjadi relevan.
Pulang Tidak Harus Kembali Menetap
Ada kecenderungan memahami “pulang” secara harfiah: kembali ke kampung halaman, tinggal di sana, bekerja di sana, lalu selesai.
Padahal dunia telah berubah.
Seorang anak Rote yang tinggal di Jakarta dapat tetap “pulang” ketika ia mengirim buku untuk sekolah di Rote. Seorang dosen yang bekerja di Kupang dapat “pulang” ketika ia membawa mahasiswa melakukan penelitian di Rote. Seorang dokter yang bekerja di luar daerah dapat “pulang” melalui pelayanan kesehatan atau jejaring profesional. Seorang diaspora yang tinggal di luar negeri dapat “pulang” dengan membuka akses pendidikan dan beasiswa bagi anak-anak di tanah kelahirannya.
Pulang, dengan demikian, tidak selalu membutuhkan tiket pesawat.
Pulang dapat berbentuk pengetahuan.
Pulang dapat berbentuk pengabdian.
Pulang dapat berbentuk jejaring.
Pulang dapat berbentuk kesempatan.
Pulang dapat berbentuk inspirasi.
Karena itu, saya kira sudah waktunya kita berbicara tentang Mai Fali E dalam pengertian yang lebih luas.
Bukan sekadar return migration, melainkan return of knowledge.
Bukan sekadar orangnya yang kembali, tetapi juga manfaat dari apa yang telah ia pelajari.
Jangan Takut Anak-Anak Rote Pergi
Kita tidak perlu takut anak-anak Rote pergi.
Justru, kita harus mendorong mereka untuk pergi belajar.
Biarkan mereka menempuh pendidikan tinggi di berbagai kota. Biarkan mereka menjadi guru, dokter, dosen, peneliti, pengusaha, birokrat, rohaniwan, profesional, dan pemimpin.
Biarkan mereka melihat dunia yang lebih luas.
Tetapi sejak awal kita perlu menanamkan satu kesadaran: kepergian bukan berarti memutus hubungan dengan tanah asal.
Anak-anak muda boleh menjadi warga dunia, tetapi mereka tidak boleh kehilangan ingatan tentang kampung halamannya.
Sebab semakin jauh seseorang pergi, seharusnya semakin luas pula sesuatu yang dapat ia bawa pulang.
Inilah yang dalam konteks pembangunan sumber daya manusia dapat kita lihat sebagai pergeseran dari brain drain menuju brain circulation.
Kita tidak mungkin melarang orang pergi.
Yang dapat kita lakukan adalah membangun hubungan yang membuat pengetahuan, pengalaman, dan jejaring mereka terus mengalir kembali.
Rote tidak harus kehilangan anak-anak terbaiknya hanya karena mereka bekerja di luar Rote.
Sebaliknya, Rote dapat memiliki jaringan anak-anak terbaiknya di berbagai tempat.
Yang dibutuhkan adalah jembatan.
Pendidikan: Jalan Pulang yang Paling Panjang
Di sinilah saya melihat pendidikan memiliki peran yang sangat penting.
Pendidikan memungkinkan seseorang pergi jauh.
Tetapi pendidikan yang baik juga mengajarkan seseorang untuk tidak melupakan tanggung jawab ketika ia telah sampai di tempat yang jauh.
Seorang anak yang berhasil menjadi doktor, misalnya, bukan hanya memperoleh gelar akademik. Ia memperoleh kemampuan untuk menghasilkan pengetahuan.
Pertanyaannya kemudian: pengetahuan itu akan berhenti di dalam dirinya atau menjadi manfaat bagi orang lain?
Seorang guru juga demikian.
Ia mungkin hanya mengajar seorang anak membaca, menulis, berhitung, atau memahami sebuah konsep pelajaran. Tetapi kita tidak pernah tahu sejauh mana satu pelajaran akan membawa seorang anak dalam kehidupannya.
Mungkin guru itu hanya mengajar sehari.
Tetapi inspirasi yang ditanamkannya dapat hidup seumur hidup.
Di sinilah saya percaya pada satu kalimat sederhana:
Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup.
Seorang guru mungkin tidak memiliki kekayaan materi yang besar. Tetapi ia dapat meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: manusia yang berubah karena pernah diajar olehnya.
Seorang guru di Rote yang menanamkan keberanian kepada seorang anak mungkin sedang menyiapkan seorang pemimpin untuk dua puluh tahun mendatang.
Seorang dosen yang mengajarkan seorang mahasiswa berpikir kritis mungkin sedang melahirkan seorang peneliti.
Seorang pendidik yang mengajarkan kecintaan terhadap budaya lokal mungkin sedang menyelamatkan identitas sebuah generasi.
Begitulah pendidikan bekerja.
Ia sering kali tidak langsung terlihat.
Tetapi dampaknya dapat panjang.
Mai Fali E sebagai Panggilan Iman
Sebagai orang yang berada dalam dunia pendidikan sekaligus kehidupan pelayanan, saya melihat Mai Fali E juga memiliki dimensi spiritual.
Dalam iman Kristen, kehidupan bukan semata-mata tentang memperoleh. Kehidupan juga tentang memberi.
Yesus berkata dalam Matius 10:8, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”
Kalimat ini sederhana, tetapi memiliki konsekuensi yang besar.
Apa yang kita miliki hari ini bukan hanya hasil kerja kita sendiri.
Ada orang tua yang berkorban.
Ada guru yang mengajar.
Ada masyarakat yang menopang.
Ada gereja yang membentuk.
Ada banyak orang yang membuka jalan.
Maka ketika seseorang berhasil, ada pertanyaan moral yang tidak boleh dihindari: apa yang akan ia lakukan dengan keberhasilannya?
Karena itu, pulang bukan hanya persoalan geografis.
Pulang adalah persoalan tanggung jawab.
Kita kembali kepada keluarga.
Kita kembali kepada masyarakat.
Kita kembali kepada nilai.
Kita kembali kepada panggilan untuk melayani.
Dan bagi seorang pendidik, panggilan itu sangat jelas: menggunakan pengetahuan untuk menghidupkan pengetahuan di dalam diri generasi berikutnya.
Tetapi Jangan Jadikan Mai Fali E Sekadar Slogan
Di titik ini kita juga perlu kritis.
Jangan sampai Mai Fali E hanya menjadi slogan yang indah dalam berbagai acara, spanduk, pidato, atau unggahan media sosial.
Kita mengajak anak-anak daerah pulang, tetapi apakah kita sudah menyiapkan ruang bagi mereka untuk berkarya?
Apakah kompetensi benar-benar dihargai?
Apakah orang-orang yang memiliki kemampuan diberi ruang untuk berinovasi?
Apakah meritokrasi berjalan?
Apakah lembaga pendidikan memiliki ekosistem yang sehat untuk penelitian dan pengembangan?
Apakah anak-anak muda yang pulang dapat membawa gagasan baru tanpa dicurigai hanya karena mereka berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting.
Sebab panggilan pulang harus disertai alasan untuk pulang.
Kita tidak cukup berkata kepada diaspora, “Pulanglah.”
Kita juga harus mampu berkata:
“Di sini ada ruang untukmu berkarya.”
“Di sini keahlianmu dihargai.”
“Di sini gagasanmu dibutuhkan.”
“Di sini kita dapat membangun sesuatu bersama.”
Tanpa itu, Mai Fali E berisiko menjadi nostalgia.
Padahal yang kita perlukan bukan nostalgia.
Kita membutuhkan transformasi.
Dari Mai Fali E 1.0 ke Mai Fali E 3.0
Mungkin kita dapat membayangkan perjalanan Mai Fali E dalam tiga tahap.
Pada tahap pertama, Mai Fali E berarti pulang secara fisik.
Orang-orang Rote yang berada di luar daerah kembali untuk memenuhi kebutuhan pembangunan.
Tahap kedua adalah pulang untuk mengabdi.
Orang-orang yang telah memperoleh pendidikan dan pengalaman membawa profesi mereka untuk memperkuat masyarakat.
Hari ini kita membutuhkan tahap ketiga: Mai Fali E 3.0—pulang melalui pengetahuan.
Tidak semua orang harus kembali menetap.
Tetapi setiap orang dapat kembali memberi.
Seorang akademisi dapat membawa penelitian.
Seorang guru membawa inovasi pembelajaran.
Seorang dokter membawa pengetahuan kesehatan.
Seorang pengusaha membawa investasi dan kesempatan kerja.
Seorang profesional membawa jejaring.
Seorang diaspora membawa akses.
Seorang rohaniwan membawa pelayanan.
Dan seorang anak muda membawa satu hal yang paling penting: harapan.
Tanah yang Memanggil
Pada akhirnya, mungkin Mai Fali E bukan hanya tentang Rote yang memanggil anak-anaknya pulang.
Ia juga tentang anak-anak Rote yang suatu hari menyadari bahwa keberhasilan pribadi tidak pernah benar-benar lengkap jika tidak menghasilkan manfaat bagi orang lain.
Kita boleh pergi sejauh mungkin.
Kita boleh belajar setinggi mungkin.
Kita boleh bekerja di mana saja.
Kita boleh membangun karier di berbagai penjuru dunia.
Tetapi jangan kehilangan kemampuan untuk mendengar suara tanah asal.
Sebab ada tanah yang mungkin tidak memberikan kita banyak kemewahan, tetapi memberikan kita identitas.
Ada keluarga yang mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi memberikan kita nilai.
Ada guru yang mungkin mengajar dalam keterbatasan, tetapi menyalakan mimpi.
Ada masyarakat yang mungkin sederhana, tetapi memberi kita tempat untuk pertama kali belajar menjadi manusia.
Dan suatu ketika, suara itu mungkin terdengar kembali:
Mai Fali E.
Pulanglah.
Tetapi pulang tidak harus berarti meninggalkan dunia yang telah kita jelajahi.
Pulang berarti membawa pulang apa yang telah kita pelajari.
Pulang berarti menjadikan keberhasilan sebagai berkat.
Pulang berarti mengubah pengetahuan menjadi pelayanan.
Pulang berarti mengubah pengalaman menjadi kesempatan bagi orang lain.
Dan bagi seorang pendidik, pulang berarti memastikan bahwa apa yang kita ajarkan hari ini tidak berhenti di ruang kelas.
Sebab mungkin kita hanya mengajar sehari.
Tetapi jika kita mengajar dengan pengetahuan, keteladanan, kasih, dan tanggung jawab, kita dapat menginspirasi seseorang seumur hidup.
Mungkin itulah makna terdalam Mai Fali E bagi generasi kita:
Pergilah untuk belajar.
Kembalilah untuk memberi.
Dan di mana pun berada, jangan pernah berhenti menginspirasi.
Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi.
Keberhasilan juga tentang seberapa banyak kebaikan yang kita kirimkan kembali.
Mai Fali E.
Tanah leluhur memanggil.
Dan mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi:
“Kapan engkau pulang?”
melainkan:
“Apa yang akan engkau bawa pulang?”
Mengajar Sehari, Menginspirasi Seumur Hidup. (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan