“Selama ini, 136 hektare sawah milik petani untuk bercocok tanam. Terus terang, sumber aliran air harus melalui saluran yang sudah roboh ini. Oleh karena itu, kami berharap kepada pemerintah, baik daerah hingga pusat, agar lebih memperhatikan saluran ini sehingga masyarakat bisa kembali bercocok tanam seperti semula,” ujar Hasyim.

Jalan Tani Sepanjang 1,2 Kilometer Ikut Rusak

Selain saluran irigasi, kerusakan juga terjadi pada jalan usaha tani yang menjadi akses penting bagi warga.

Salah seorang warga, Abubakar, mengatakan jalan tersebut digunakan petani, peternak, hingga nelayan untuk menuju lokasi usaha sekaligus membawa hasil produksi mereka.

Jalan itu juga menjadi akses utama yang menghubungkan permukiman warga dengan kawasan persawahan dan pesisir.

“Jalan tani ini dari perkampungan menuju area persawahan. Peternak dan nelayan semua melalui jalan ini. Ini akses utama bagi masyarakat,” kata Abubakar.

Menurutnya, panjang jalan usaha tani tersebut mencapai sekitar 1,2 kilometer. Namun, terdapat bagian jalan sepanjang kurang lebih 30 meter yang ambruk akibat gempa.

Kerusakan tersebut membuat aktivitas warga semakin sulit. Petani harus berjuang melewati akses yang terganggu untuk menjalankan aktivitas pertanian, sementara peternak dan nelayan juga membutuhkan jalur tersebut untuk mencari nafkah.